KPTN-KTI Matangkan Persiapan Musyawarah Anggota 2025–2027: Kembali Tegaskan Komitmen untuk Majukan PTN di Kawasan Timur Indonesia
Banjarbaru — Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Timur Indonesia (KPTN-KTI) menggelar pertemuan persiapan teknis Musyawarah Anggota periode 2025–2027 pada Sabtu, 21 Juni 2025, bertempat di Hotel Roditha Banjarbaru. Pertemuan ini dihadiri oleh pimpinan dan perwakilan perguruan tinggi negeri dari wilayah timur Indonesia, sebagai forum awal untuk membahas keberlanjutan program, evaluasi tata kelola, serta arah strategis KPTN-KTI ke depan.
Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif KPTN-KTI, Dr. Andi Ilham Makhmud, M.M. (Universitas Hasanuddin), menyoroti pentingnya memperbaharui Anggaran Dasar dan Rumah Tangga (AD/ART) konsorsium yang terakhir direvisi pada 2019. Ia menegaskan bahwa struktur organisasi, termasuk posisi Dewan Pertimbangan, perlu ditata ulang agar lebih adaptif terhadap kebutuhan dan perkembangan terkini.
“Kegiatan hari ini sebenarnya dijadwalkan Maret lalu, namun karena efisiensi anggaran, baru bisa terlaksana sekarang. Map yang kami bagikan memuat AD/ART yang perlu kita diskusikan dan perbarui sebelum musyawarah anggota resmi beberapa bulan ke depan,” ujarnya.
Dr. Ilham juga menggarisbawahi bahwa KPTN-KTI yang berdiri sejak 1993 harus kembali menegaskan tujuannya, yakni mendorong kesetaraan dan keberdayaan perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia. Ia menyebut, dengan 153 kabupaten/kota dalam cakupan wilayah KTI, pengurus ke depan diharapkan dapat bersinergi lebih kuat dengan Kementerian Pendidikan untuk memperkuat PTN dan masyarakat lokal.
Sementara itu, Ketua Presidium KPTN-KTI, Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, S.E., M.Si. yang juga Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM), menyampaikan pentingnya pertemuan ini sebagai bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antar-PTN KTI dalam menjawab tantangan global.
“Ketimpangan antara PTN di KTI dan kawasan barat masih cukup besar. Namun, kita sudah mulai mengejar, terutama dalam hal riset dan akreditasi,” tuturnya.
Prof. Ahmad juga menyoroti pentingnya penguatan penjaminan mutu dan akreditasi internasional, serta pengembangan jaringan kerja sama seperti KUB (Kalimantan-Indonesia-Malaysia-Brunei) yang sedang berkembang pesat seiring dengan pembangunan IKN. Ia menyampaikan bahwa KPTN-KTI harus bisa mengelola data keahlian dosen berbasis wilayah dan disiplin ilmu, agar kolaborasi riset lebih mudah dilakukan lintas kampus dan bahkan lintas negara.
“Kita jangan kalah dari kawasan barat. Masa depan Indonesia ada di timur, dan KPTN-KTI harus siap menjadi penggeraknya,” tegasnya.
Musyawarah anggota KPTN-KTI untuk periode 2025–2027 dijadwalkan akan digelar antara Agustus hingga September 2025, dengan penentuan tuan rumah masih dalam pembahasan. Agenda utama musyawarah mendatang meliputi:
- Revisi dan pengesahan AD/ART
- Penunjukan kepengurusan baru
- Penguatan program penjaminan mutu dan akreditasi
- Pemanfaatan jejaring riset dan data keilmuan dosen
- Penyusunan roadmap kerja sama internasional dan regional
Pertemuan ini menjadi wujud nyata konsistensi KPTN-KTI dalam memperkuat posisi perguruan tinggi di kawasan timur sebagai pilar pembangunan nasional. Dengan mengusung semangat kolaborasi, inovasi, dan keberlanjutan, KPTN-KTI diharapkan mampu membawa perubahan positif yang signifikan bagi dunia pendidikan tinggi di Indonesia Timur.
“Kita optimistis bahwa dengan kerja sama yang solid, kawasan timur bisa menjadi poros penting dalam masa depan pendidikan dan pembangunan nasional,” pungkas Prof. Ahmad Alim Bachri.

