Reja Pahlevi, S.Pd., M.Pd: Fenomena Bullying Harus Jadi Perhatian
BANJARMASIN – Kasus penusukan oleh seorang pelajar SMAN 7 Banjarmasin terhadap teman sekelasnya mendapat perhatian dari pemehati pendidikan, Reja Pahlevi, S.Pd., M.Pd. Dosen pengajar Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini mengaku prihatin. Sebab, pertikaian diduga buntut pelaku yang sering dibully atau perundungan dari korban. Terlebih, insiden terjadi di sekolah. “Tentu masalah ini sangat mengiris hati,” ungkapnya, Senin (31/7/2023). Dia menilai fenomena bullying memang merata pada setiap sekolah. Bahkan ada kecenderungan marak terjadi pada sekolah-sekolah berlabel favorit alias berada di perkotaan.
“Ini menyangkut soal karakter atau moral dari seorang anak. Karakter terbentuk sejak dari keluarga dan lingkungan pergaulan sekolah,” ujarnya. Menurut Reza pula, fenomena perundungan harus menjadi perhatian. Meski setiap sekolah sudah membentuk tim antibully, namun dia menilai, implementasi di lapangan tak berjalan sesuai harapan. Keberadaan tim tersebut belum menjamin fenomena perundungan tak terjadi di lingkungan sekolah. “Bullying merupakan bagian dari kenakalan remaja yang mengkhawatirkan. Jadi sekali lagi, ini soal pembentukan moral setiap anak,” tekannya. Di sisi lain, Reza juga tak bisa membenarkan tindakan penusukan yang dilakukan korban perundungan.
Dia menilai, kondisi tersebut dipicu faktor lingkungan dan pergaulan sehari-hari. “Di samping faktor sakit hati, ini bisa jadi pengaruh pergaulan atau apa yang ditontonnya sehari-hari,” tandasnya.

