Lembaga Sensor Film Republik Indonesia Terus Semarakkan Budaya Sensor Mandiri
Banjarmasin – Universitas lambung Mangkurat (ULM) mendapat kesempatan menerima kunjungan dari Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia untuk melaksnakan kegiatan Sosialisasi Budaya Sensor Mandiri di Provinsi Kalimantan Selatan pada Rabu, (26/07/2023). Tema kegiatan sosialisasi ini adalah “Cerdas Memilah dan Memilih Tontonan”.
Berhadir dalam acara ini yakni Rektor ULM Prof. dr. Ahmad, S.E., M.Si, Mayor Jendral (Purn) Dr. Ahmad Basuki, serta Ketua KPI Pusat Ubaidillah, M.Pd yang hadir melalui Zoom. Para tokoh adat Kalimantan Selatan, mahasiswa dari Universitas di Kalimantan Selatan, dan siswa-siswi sekolah menengah di wilayah Banjarmasin juga turut diundang menghadiri kegiatan ini.
LSF mendatangkan 3 narasumber sekaligus dalam kegiatan ini yakni Ahmad Yani Basuki , M.Si selaku Ketua Komisi II LSF RI Bidang Hukum dan Advokasi, Zainal Muttaqin selaku Founder Shakila Project produser Sapakawanan Project, dan Evri Rizqi Monarshi selaku Komisioner di bidang kelembangaan
Rektor ULM dalam sambutannya merasa terhormat dengan kehadiran LSF ke ULM. Menurut beliau, kegiatan ini akan memebrikan manfaat kepada citivas akaademika ULM dan serta seluruh tamu undangan yang hadir.
“Proses edukasi yg dilakukan melalui sosialisasi hari ini akan mencerdaskan insan akademik yang ada di ULM belum termasuk teman teman diluar ULM serta teman teman di perfilman luar” Ucap rektor.
Perfilman merupakan salah satu proses pendidikan untuk menjawab kehidupan bangsa, dari segi moral edukasi yg penuh makna diwarnai bhineka tunggal ika. Merawat keanekaragaman budaya yang dimiliki indonesia, menjawab tantangan teknologibyang sangat masif masuk di kita
Strategi pertahanan bangsa yang sangat fundamental, memantance peradaban budaya bangsa kita. Semoga Bangsa ini akan tetap eksis selama lamanya NKRI yang tidak terpecah pecah, peran Film menyatukan persepsi perpecahahan dan tantangan yang akan di hadapi bangsa indonesia
Perfilman menjadi salah satu bagian untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, masyarakat Indonesia. Maka dari itu, memilah dan memilih tontonan itu sangat diperlukan. Lembaga Sensor film merupakan Lembaga negara yang dibentuk berdasarkan UU perfilman yang tugasnya melindungi masyarakat dari dampak negatif perfilman tapi di lain sisi juga harus mendorong angka perfilman untuk berkembang lebih maju agar mampu menjadi salah satu benteng pertahanan dalam membina kebudayaan.
Maka dari itu, melalui sosialisasi ini, LSF berharap para cineas dapat lebih bijak memilah dan memilih tontonan sesuai usia dan terus melakukan sensor mandiri baik untuk diri sendiri maupun sanak saudara disekitarnya.
Acara berlangsung dengan lancar, para undangan tampak sangat antusias mendengar pemaparan para ketiga narasumber. Tak hanya itu, mereka juga aktif bertanya setelah sesi diskusi selesai.


Previous post
Workshop on Fund Withdrawal Plans (RPD) to Encourage Realization of a More Effective Budget
You may also like

