Pj Kades Angsana Apresiasi Inovasi Kopi Mangrove Mahasiswa KKN ULM
Tanah Bumbu – Kehadiran Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 2 di Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, mendapat sambutan positif dari pemerintah desa dan masyarakat. Selama menjalankan program, mahasiswa memperkenalkan sejumlah kegiatan berbasis lingkungan dan pemberdayaan masyarakat, mulai dari pemanfaatan buah mangrove menjadi kopi, pengolahan limbah menjadi pupuk cair, sosialisasi pembuatan dimsum berbahan ikan, hingga edukasi pemilahan sampah.
Penjabat (Pj) Kepala Desa Angsana, Sayid Firdaus, menilai kegiatan mahasiswa membawa wawasan baru yang relevan dengan potensi desa. “Kami atas nama Pemerintah Desa Angsana mengucapkan terima kasih kepada fakultas, terkhusus yang telah mendatangkan adik-adik KKN ke wilayah Tanah Bumbu, khususnya di desa kami, Desa Angsana,” ujarnya, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, salah satu program yang paling menarik perhatian adalah pemanfaatan buah mangrove sebagai bahan kopi. “Dengan adanya kedatangan KKN ini menambah wawasan bagi masyarakat kami. Pertama terkait masalah buah mangrove yang bisa dijadikan kopi. Ini satu pembelajaran bagi masyarakat kami,” kata Sayid.
Sayid berharap pengetahuan yang diperkenalkan mahasiswa tidak berhenti ketika masa KKN berakhir. Desa Angsana memiliki kawasan mangrove yang luas dan dapat menjadi sumber potensi baru bagi masyarakat jika dimanfaatkan secara tepat dengan tetap menjaga kelestariannya. “Dengan adanya ilmu yang diberikan oleh KKN itu nanti bisa bermanfaat dan bisa dilanjutkan untuk digunakan masyarakat kami. Terutama ada inovasi baru yaitu pembuatan kopi dari buah mangrove Angsana tersebut,” tuturnya.
Selain kopi mangrove, pemerintah desa juga melihat peluang pengembangan potensi wisata. Angsana memiliki pantai, terumbu karang, dan kawasan mangrove yang dapat dikembangkan lebih jauh sebagai destinasi wisata. Mahasiswa diharapkan turut mengenalkan potensi tersebut kepada masyarakat.
Dalam pelaksanaan program, mahasiswa tidak hanya bekerja sendiri, tetapi juga melibatkan unsur masyarakat, termasuk pemuda melalui Karang Taruna. “Anggota Karang Taruna kami juga berkolaborasi dalam pelaksanaan program dari adik-adik KKN,” kata Sayid. Interaksi tersebut dinilai positif karena mahasiswa berbaur dengan warga dan membawa suasana baru di desa.
Untuk mendukung kegiatan, Pemerintah Desa Angsana menyiapkan posko berupa rumah dengan lima kamar di RT 1, tidak jauh dari kantor desa. Posko tersebut ditempati 16 mahasiswa, terdiri dari enam laki-laki dan 10 perempuan. Fasilitas dasar seperti air, listrik, dan akses komunikasi juga disediakan agar mahasiswa dapat menjalankan program dengan baik.
Sayid menuturkan, masyarakat menyambut baik kehadiran mahasiswa. “Kedatangan adik-adik KKN di Desa Angsana dengan masyarakat cukup bagus, cukup antusias. Jadi kami pun senang dengan adanya kedatangan KKN ini, bisa membantu kegiatan kami, terutama di bidang lingkungan hidup,” ujarnya.
Ia menambahkan, suasana yang terbangun selama mahasiswa berada di desa sangat positif. “Yang paling menarik lagi adalah mereka selalu happy di Angsana dan kami pun dari perangkat desa serta lembaga lainnya juga senang dengan adanya KKN di Desa Angsana,” katanya.
Bagi Pemerintah Desa Angsana, keberadaan mahasiswa bukan hanya soal program kerja yang selesai, tetapi juga pengetahuan dan gagasan baru yang diharapkan dapat terus dikembangkan masyarakat. Inovasi kopi mangrove menjadi salah satu contoh nyata potensi baru yang dapat dilanjutkan setelah masa KKN berakhir. “Karena kami ada kawasan mangrovenya, jadi itu yang akan kami lanjutkan nanti,” pungkas Sayid.

