• Penghargaan
  • Akreditasi ULM
  • Blog Dosen ULM
  • Hosting
  • PMB
    • SNMPTN 2020
    • UTBK-SBMPTN 2020
    • Seleksi Mandiri 2020
    • Beasiswa KIP-Kuliah
  • English
  • E-Kliping
  • ULM Sepekan
ULMULM
  • Profil
    • Visi, Misi, Tujuan, Sasaran & Strategi Pencapaian
    • Struktur Organisasi
    • Profil Pimpinan
      • Pimpinan Universitas
      • Pimpinan Senat Universitas
      • Pimpinan Fakultas, Lembaga & UPA
    • Pakta Integritas
    • Kode Etik Dosen dan Mahasiswa
    • Sejarah
    • Arti Lambang ULM
    • Motto, Bendera, Hymne & Mars
    • Tugas, Fungsi dan Alamat Lengkap Universitas, Fakultas, Pascasarjana, Lembaga dan UPA
  • Fakultas
    • Keguruan & Ilmu Pendidikan
    • Ekonomi & Bisnis
    • Hukum
    • Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
    • Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
    • Perikanan & Ilmu Kelautan
    • Kehutanan
    • Pertanian
      • Prodi Proteksi Tanaman
    • Teknik
    • Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
    • Kedokteran Gigi
    • Pascasarjana
  • SAKIP
    • Perencanaan Kinerja
      • Rencana Strategis
        • RSB 2026 – 2029
        • Renstra 2025-2029
          • DOI Renstra 2025-2029
        • Renstra 2020 – 2024 Revisi
        • RSB 2021-2025
        • Renstra 2020 – 2024
        • Renstra 2015 – 2019 Revisi
        • Renstra 2015 – 2019
      • Rencana Induk Pengembangan
        • RIP 2010 – 2045
        • SISTEM PENGEMBANGAN SUASANA AKADEMIK
      • Rencana Kinerja Tahunan
        • RKT 2026
        • RKT 2025
        • RKT 2024
        • RKT 2023
        • RKT 2022
        • RKT 2021
        • RKT 2020
        • RKT 2019
        • RKT 2018
        • RKT 2017
      • Dokumen Perjanjian Kinerja
        • 2026
          • Perjanjian Kerja Rektor dan Wakil Rektor 2026
          • PK Dekan Fakultas dan Direktur Pascasarjana 2026
          • PK Ketua Lembaga 2026
          • PK Kepala UPA 2026
          • PK Kepala Biro 2026
          • PK Unit Kerja Lainnya 2026
        • 2025
          • Perjanjian Kerja Rektor dan Wakil Rektor 2025
          • PK Dekan Fakultas dan Direktur Pascasarjana 2025
          • PK Ketua Lembaga 2025
          • PK Kepala UPA 2025
          • PK Kepala Biro 2025
          • PK Unit Kerja Lainnya 2025
        • 2024
          • PK Rektor dan Wakil Rektor
          • PK Dekan Fakultas dan Direktur Pascasarjana 2024
          • PK Ketua Lembaga 2024
          • PK Kepala UPA 2024
          • PK Kepala Biro 2024
          • PK Unit Kerja Lainnya 2024
        • 2023
          • PK Rektor dan Wakil Rektor
          • PK DEKAN FAKULTAS DAN DIREKTUR PASCASARJANA
          • PK Ketua Lembaga
          • Kepala UPT
          • PK Kepala Biro
          • PK Unit Kerja Lainnya
        • 2022
          • PK Rektor dan Wakil Rektor
          • PK DEKAN FAKULTAS DAN DIREKTUR PASCASARJANA
          • PK Ketua Lembaga
          • PK Kepala UPT
          • PK Kepala Biro
          • PK Unit Lainnya
        • 2021
          • PK Rektor dan Wakil Rektor
          • PK Dekan Fakultas dan Direktur Pascasarjana
          • PK Ketua Lembaga
          • PK Kepala Biro
          • PK Kepala UPT
          • Pk Unit Kerja Lainnya
        • 2020
          • PK REKTOR DAN WAKIL REKTOR
          • PK DEKAN FAKULTAS DAN DIREKTUR PASCASARJANA
          • PK Ketua Lembaga
          • PK Kepala UPT
          • Unit Kerja Lainnya
      • Rencana Aksi
        • Renaksi 2026
        • Renaksi 2025
        • Renaksi 2024
        • Renaksi 2023
        • Renaksi 2022
        • Renaksi 2021
        • Renaksi 2020
    • Pengukuran Kinerja
      • 2026
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • 2025
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • 2024
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • 2023
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • 2022
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
    • Pelaporan Kinerja
      • LAKIN 2026
        • Triwulan 1
        • Triwulan 2
      • LAKIN 2025
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • LAKIN 2024
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • LAKIN 2023
        • Triwulan 4
        • Triwulan 3
        • Triwulan 2
        • Triwulan 1
      • LAKIN 2022
      • LAKIN 2021
      • LAKIN 2020
      • LAKIN 2019
      • LAKIN 2018
      • LAKIP 2017
    • Evaluasi Kinerja
      • LHE 2025
      • LHE 2024
      • LHE 2023
      • LHE 2022
      • LHE 2021
      • LHE 2020
    • Reformasi Birokrasi
  • Biro
    • Akademik dan Kemahasiswaan
    • Keuangan dan Umum
    • Perencanaan, Kerjasama dan Humas
      • Pedoman dan Evaluasi Kerjasama
        • Survei BPKH 2024
      • RKT BPKH
        • RKT BPKH 2025
        • RKT BPKH 2024
        • RKT BPKH 2023
  • ULM Berdampak
    • Dampak Sosial Ekonomi & Lingkungan
    • Berita Kampus Berdampak
    • Survei Kepuasan
      • Unduh Survei
      • Survei Kepuasan Layanan BPKH
      • KEBIJAKAN KEBERLANJUTAN UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT

Prestasi & Opini

  • Home
  • Blog
  • Prestasi & Opini
  • [OPINI] Wisata Kreatif yang Terlewat

[OPINI] Wisata Kreatif yang Terlewat

  • Posted by Humas ULM
  • Categories Prestasi & Opini
  • Date 17 December 2025

Perjalanan singkat di akhir konferensi internasional di Lombok beberapa waktu lalu meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Bukan hanya karena suasana pantai atau jamuan kegiatan ilmiah, melainkan pengalaman tidak terduga ketika mengunjungi Desa Sukarara dan Desa Adat Sasak Sade. Dua desa ini memberi pelajaran penting tentang bagaimana budaya tidak hanya diwariskan, tetapi juga dikemas menjadi pengalaman wisata yang bernilai ekonomi tinggi.

Di Desa Sukarara, wisatawan tidak hanya datang untuk melihat kain tenun khas Lombok. Kami diajak mencoba menenun sendiri, memakai pakaian adat, hingga berpose di rumah tradisional yang sudah disiapkan untuk wisatawan. Ada interaksi, ada edukasi, ada pengalaman yang sengaja dikemas agar pengunjung bukan sekadar melihat, melainkan merasa terlibat.

Sementara di Desa Sasak Sade, pengalaman kembali diperkuat. Di sana, rumah adat tidak hanya dilestarikan sebagai tinggalan sejarah; rumah itu menjadi ruang hidup yang benar-benar dipertahankan tanpa tergerus modernisasi. Wisatawan bebas berfoto, dapat mencoba pakaian adat saja untuk berfoto atau membelinya, dan merasakan atmosfer kehidupan tradisional yang autentik. Tidak ada bangunan modern, tidak ada rekayasa tanpa konteks. Desa ini seperti museum hidup. Wisata tidak sekadar datang foto pulang, tetapi meresapi kehidupan. Pemandu berkata dengan bangga, “Kalau ingin menikah dengan orang sini, harus bisa menenun.” Kalimat sederhana itu menegaskan betapa tenun bukan sekadar produk, tetapi identitas.

Pengalaman tersebut kemudian membuat saya berpikir: mengapa Banjarmasin belum mengemas budaya Sasirangan seperti itu? Kita memiliki Kampung Sasirangan, bahkan telah ditetapkan pemerintah sebagai sentra kain khas Banjar. Namun, ketika wisatawan datang, apa yang mereka dapatkan? Mayoritas hanya melihat kain, memilih motif, lalu membeli. Tidak ada pengalaman, tidak ada cerita, tidak ada proses yang membuat kita ingin tinggal lebih lama.

Padahal, fondasi menuju wisata budaya seperti itu sebenarnya sudah ada. Kampung Sasirangan tidak hanya berfungsi sebagai pusat penjualan, tetapi juga tempat wisatawan bisa melihat proses produksi Sasirangan langsung dari pengrajin. Pengunjung dapat menyaksikan perendaman warna, pengikatan motif, hingga proses pengeringan. Sayangnya, wisata edukasi ini belum dikembangkan secara komprehensif menjadi “paket pengalaman budaya” yang utuh. Belum ada rumah adat Banjar yang difungsikan khusus untuk wisata, belum tersedia penyewaan pakaian adat yang terorganisir bagi pengunjung, dan belum ada ruang foto yang memadukan produk, proses, dan identitas budaya Banjar dalam satu destinasi. Jika tiga unsur ini dikemas bersama, maka Kampung Sasirangan akan berubah dari sekadar pasar kain menjadi destinasi budaya yang hidup.

Padahal, wisata saat ini bergeser dari sightseeing menjadi experiential tourism, sebuah pola wisata di mana pengunjung ingin belajar, terlibat, dan merasakan budaya, bukan hanya menontonnya. Bayangkan jika wisatawan dapat memasuki rumah adat Banjar, mengenakan tapih, laung, atau baju Banjar, lalu dibimbing membuat Sasirangan sederhana dalam waktu singkat. Mereka bisa membawa pulang kain buatan mereka sendiri, lengkap dengan foto berlatar rumah adat. Nilai ekonomi tidak hanya datang dari kain yang dijual, tetapi dari paket wisata kreatif: workshop, penyewaan kostum, ruang foto, storytelling motif, hingga edukasi warna dan filosofi. Sasirangan akan menjadi kenangan, bukan sekadar barang.

Model ini terbukti berhasil di berbagai daerah. Bali dengan Painting Class Ubud, Yogyakarta dengan Batik Workshop, dan Lombok dengan Tenun Experience. Semua menunjukkan bahwa budaya ditambah dengan pengalaman maka akan mempunyai nilai ekonomi berlipat. Bukan produk yang datang terlebih dahulu, tetapi cerita dan keterlibatan. Wisata bukan hanya menjual benda tetapi juga menjual pengalaman.

Lebih menarik lagi, konsep ini sangat cocok dengan arah pembangunan Banjarmasin sebagai kota kreatif dan pintu gerbang wisata sungai di Kalimantan Selatan. Wisata Sasirangan berbasis pengalaman dapat terintegrasi dengan paket wisata sungai, wisata religi, hingga halal tourism. Ini sejalan dengan perkembangan ekonomi kreatif dan potensi industri halal, karena kain tradisional dan budaya lokal adalah bagian dari identitas halal lifestyle yang kini menjadi tren.

Lalu, siapakah yang harus memulai? Tentu tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kolaborasi adalah kunci. Pengrajin, pemilik rumah adat, komunitas budaya, akademisi, pelaku pariwisata, hingga mahasiswa kreatif dapat menjadi bagian dari ekosistem ini. Kampus dapat berperan melalui riset desain motif, pemasaran digital, hingga pelatihan model bisnis kreatif. Pengrajin tidak sekadar jadi penjual, tetapi pemandu wisata budaya. Generasi muda Banjar menjadi kurator cerita tentang bagaimana warna, motif, dan filosofi Sasirangan terhubung dengan nilai kehidupan orang Banjar.

Pada titik ini, kita harus bertanya, apakah Sasirangan hanya akan menjadi kain yang diperjualbelikan, atau menjadi identitas budaya yang kita hidupkan bersama? Jika hanya dijual tanpa cerita, ia akan menjadi produk yang mudah tergantikan. Namun jika dikemas sebagai pengalaman, ia akan menjadi kenangan yang dibawa pulang oleh ribuan wisatawan.

Banjarmasin memiliki sejarah, budaya, dan kreativitas. Yang kita butuhkan sekarang adalah keberanian untuk mengemasnya. Rumah adat Banjar bukan hanya ikon tetapi ia harus menjadi ruang pengalaman. Kampung Sasirangan bukan hanya pasar, ia harus menjadi sekolah budaya. Dan Sasirangan bukan hanya kain, ia harus menjadi cerita yang kita banggakan.

Bila Sukarara dan Sade bisa membuktikan bahwa budaya bisa menjadi wisata yang hidup dan berkelanjutan, maka Banjarmasin juga bisa demikian. Sudah saatnya kita berhenti lewatkan potensi besar ini, dan mulai menghadirkan Sasirangan Experience yang memadukan edukasi, ekonomi, dan identitas. Karena budaya yang dilihat hanya akan dikagumi sesaat. Tetapi budaya yang dialami, akan diingat dan dihargai sepanjang masa.

Oleh: Sri Maulida – Dosen FEB ULM Banjarmasin

Terbit di koran Radar Banjarmasin 15 Desember 2025

  • Share:
Humas ULM

Previous post

ULM Perkuat Kesadaran Hukum Aparatur dan Masyarakat melalui Penyuluhan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia
17 December 2025

Next post

BKGN 2025 Resmi Dibuka, Kolaborasi FKG ULM dan RSGM Gusti Hasan Aman
17 December 2025

You may also like

WhatsApp Image 2026-09-14 at 3.14.42 PM
Ruben, Irfansyah, Tohirin, dan M. Shidiq (Mapala Sylva) Juara 1 Nasional Super Adventure Race 2026
14 September, 2026
WhatsApp Image 2026-09-13 at 12.36.30
Mahasiswa ULM Raih Dua Juara Harapan di Peksiminas XVIII
14 September, 2026
WhatsApp Image 2026-08-12 at 16.18.46
Mahasiswa Farmasi ULM Raih Juara 1 Lomba Poster Ilmiah Internasional The International NursFest 6.0
13 August, 2026

Pengumuman Terbaru

Logo dan Tema Dies Natalis Ke-68 ULM
17Sep2026
Lelang Noneksekusi Wajib BMN ULM
05Aug2026
Promo Pendidikan: Bayar di Aplikasi OCTO CIMB Niaga Syariah, Hadiah Menanti
30Jul2026
Program Bantuan Penelitian Kebanksentralan (Banlit) Bank Indonesia 2026 Resmi Dibuka!
01Jul2026

Lembaga & UPA

  • Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat
  • Lembaga Penjaminan Mutu dan Peningkatan Pembelajaran
  • UPA Bahasa
  • UPA Bimbingan Konseling
  • UPA Laboratorium Terpadu
  • UPA Lingkungan Lahan Basah
  • UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan
  • UPA Perpustakaan
  • UPA PTIK

Tautan

  • Career Development Center
  • Inkubator Bisnis Teknologi (IBT)
  • Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus
  • LPSE
  • Pusat Pelayanan Asesmen Kompetensi
  • Pusat Penelitian Lingkungan Hidup
  • Pusat Pengelolaan Jurnal & Penerbitan
  • Pusat Pengembangan Infrastruktur Informasi Geospasial
  • Pusinotekom Hutan dan Lahan Basah
  • Tim Pakar Percepatan Penanganan Covid-19 ULM
  • Unit Konsultasi dan Pelayanan Psikologi

Kontak Kami

Jl. Brigjen H. Hasan Basri, Kayu Tangi, Banjarmasin, Indonesia, Kotak Pos 219

Pusat Informasi dan Pelayanan Terpadu:

(0511) 3306671, 3306603, 3304177, 3306694

[email protected]

Copyright ©2019 Universitas Lambung Mangkurat

  • IKA
  • Peta Kampus