Revitalisasi Kuliner Banjar: ULM Teliti Kearifan Lokal Lahan Basah sebagai Identitas Budaya
Banjarmasin – Tim peneliti Universitas Lambung Mangkurat (ULM) pada Jurusan Pendidikan Sosiologi tengah melakukan penelitian berjudul “Ekologi Lahan Basah dan Tradisi Kuliner Banjar: Revitalisasi Kearifan Lokal sebagai Penopang Identitas Budaya”.
Penelitian ini mengungkap pentingnya makanan tradisional Banjar bukan hanya sebagai kuliner, tetapi juga sebagai perekat sosial, simbol budaya, dan media pewarisan nilai dari generasi ke generasi.
Ketua tim peneliti, Dr. Yuli Apriati, S.Sos., M.A, menjelaskan bahwa kuliner Banjar lahir dari ekosistem lahan basah Kalimantan Selatan seperti sungai dan rawa. “Modernisasi membuat kuliner lokal semakin terpinggirkan. Jika tidak segera dilakukan pelestarian, maka warisan budaya ini berisiko hilang dan terputus dari generasi muda,” ujarnya.
Melalui metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, penelitian ini melibatkan sembilan informan yang terdiri atas budayawan, pelaku kuliner, dan masyarakat Banjar. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Beberapa jenis makanan tradisional yang masih lestari, antara lain lakatan bahinti, wajik, kokoleh, ketupat, serta bubur habang dan bubur putih.
Hasil penelitian sementara menunjukkan bahwa makanan tradisional Banjar berfungsi dalam berbagai aspek:
- Fungsi sosial, seperti dalam acara adat, keagamaan, hingga mendukung ekonomi lokal.
- Fungsi budaya, sebagai simbol identitas dan media pewarisan nilai.
- Fungsi ekologis, karena bahan pangan utamanya bersumber dari potensi lahan basah.
Selain laporan ilmiah, penelitian ini juga menghasilkan dokumentasi visual berupa foto dan video kuliner Banjar, serta poster. Ke depan, tim peneliti menargetkan publikasi di jurnal nasional dan mengikuti Seminar Nasional Lahan Basah.
“Harapannya, kuliner Banjar tidak hanya dikenal sebagai sajian khas, tetapi juga diakui sebagai kekayaan budaya yang memperkuat identitas masyarakat Kalimantan Selatan,” tambah Yuli Apriati.

