ULM Dorong Paradigma Inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Banjarbaru
Banjarbaru – Tim dosen Jurusan Pendidikan Khusus Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat berupaya mengubah paradigma masyarakat terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dengan menggelar sosialisasi tentang masyarakat inklusif di Kelurahan Landasan Ulin Timur, Kota Banjarbaru, Kamis (21/8/2025).
Ketua Tim Dosen Mengabdi FKIP ULM, Rona Wulandari, menjelaskan bahwa tantangan penanganan ABK masih cukup besar. Hal tersebut terlihat dari kurangnya penerimaan orang tua, stigma negatif masyarakat terhadap perilaku unik ABK, keterbatasan pengetahuan tentang disabilitas, hingga fakta bahwa masih ada anak penyandang disabilitas yang belum bersekolah.
“Melalui sosialisasi ini, kami ingin mengubah cara pandang masyarakat. Setiap individu wajib dihargai dan dihormati, terlepas dari perbedaan yang ada,” ujar Rona.
Dalam kegiatan yang diikuti 57 peserta dari unsur RT, RW, kader posyandu, hingga anggota PKK tersebut, para narasumber dari ULM memaparkan peran penting masyarakat dalam membangun lingkungan yang inklusif. Tim juga memperkenalkan berbagai aplikasi pendukung ABK, seperti Sistem Informasi Difabel (Sidabel), aplikasi Ajak Mobilitas bagi pendamping tunanetra, dan aplikasi Sinori untuk membantu anak tunagrahita belajar menolong diri.
Lurah Landasan Ulin Timur, Nina Marlina, mengapresiasi kontribusi ULM yang dinilainya mampu membuka wawasan masyarakat. “Peserta terlihat antusias, bahkan ada yang langsung bertanya tentang penyebab keterlambatan berbicara pada anak,” ujarnya.
Hal senada disampaikan perwakilan PKK Landasan Ulin, Suwartiningsih, yang menilai kegiatan ini sangat bermanfaat karena hampir di setiap lingkungan terdapat ABK yang memerlukan perhatian. Ia berharap mahasiswa Jurusan Pendidikan Khusus ULM juga dapat terjun melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk mendampingi keluarga dan masyarakat.
Tim dosen ULM yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Rona Wulandari sebagai ketua, didampingi Dr. Utomo dan Hayatun Thaibah, serta dibantu dua mahasiswa, Ayu Linda Frastya dan Mawarni Nurhidayah.
Melalui pengabdian masyarakat ini, ULM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan solusi akademik dalam persoalan sosial, khususnya dalam membangun paradigma inklusif agar ABK mendapatkan kesempatan yang sama di bidang pendidikan maupun kehidupan sehari-hari.

