ULM Jadi Ruang Dialektika Sejarah: Usulan Tragedi Jumat Kelabu Masuk Buku Sejarah Nasional
Banjarmasin – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menjadi tuan rumah diskusi publik penyusunan “Buku Sejarah Indonesia Tahun 2025” yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi serta Direktorat Sejarah dan Permuseuman Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Kegiatan ini digelar di Lecture Theater General Building ULM Banjarmasin, Senin (28/7/2025), bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP ULM.
Diskusi yang dihadiri akademisi, mahasiswa, sejarawan, dan pegiat budaya Kalimantan Selatan ini menjadi ruang terbuka untuk memberi masukan terhadap narasi sejarah nasional yang tengah disusun. Salah satu isu yang mencuat dalam forum tersebut adalah usulan agar tragedi politik Jumat Kelabu 23 Mei 1997 di Banjarmasin turut diangkat sebagai bagian dari sejarah nasional.
Usulan tersebut disampaikan oleh Plt Sekretaris Badan Kesbangpol Banjarmasin, Zulfaisal Putra, yang menilai peristiwa kelam menjelang Pemilu 1997 itu terlalu besar untuk diabaikan.
“Tragedi itu menewaskan ratusan orang dan hingga kini belum pernah diusut tuntas. Kalau Peristiwa Sampit bisa masuk sejarah nasional, kenapa Jumat Kelabu tidak?” tegasnya.
Selain itu, Zulfaisal juga menyarankan agar Perang Banjar ditulis lebih lengkap dalam buku sejarah nasional dengan pendekatan yang melibatkan sumber lokal, bukan hanya berdasarkan kajian pustaka.
Menanggapi aspirasi tersebut, Direktur Sejarah dan Permuseuman, Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., menyambut baik antusiasme peserta dan menegaskan bahwa pihaknya terbuka terhadap semua masukan, selama didukung bukti dan memiliki relevansi nasional.
“Jika sebuah peristiwa berdampak signifikan bagi proses kebangsaan dan didukung oleh sumber yang kredibel, tentu akan kami pertimbangkan untuk ditulis,” ungkapnya.
Sementara itu, Editor Umum Penulisan Buku Sejarah Indonesia 2025, Prof. Dr. Susanto Zuhdi, M.Hum, menjelaskan bahwa saat ini proses penulisan telah mencapai 90 hingga 95 persen. Ia menekankan bahwa sejarah tidak hanya mencatat pencapaian, tetapi juga harus merekam sisi gelap perjalanan bangsa.
“Sejarah harus ditulis secara utuh, termasuk peristiwa-peristiwa menyakitkan agar menjadi pembelajaran kolektif,” jelasnya.
Diskusi ini menjadi salah satu upaya Kementerian Kebudayaan dalam menjaring aspirasi publik sebelum finalisasi penulisan buku sejarah nasional. Turut hadir dalam kegiatan ini sepuluh penulis utama buku, seperti Prof. Akin Duli, Wanny Rahardjo, Prof. Usep Abdul Matin, Zacky Khairul Umam, Prof. Purnawan Basundoro, dan Prof. Erniwati. Tiga editor utama juga turut hadir, yaitu Prof. Singgih Tri Sulistiyono, Prof. Jajat Burhanudin, dan Prof. Susanto Zuhdi.
Melalui kegiatan ini, Universitas Lambung Mangkurat menegaskan perannya sebagai institusi akademik yang aktif dalam merawat ingatan sejarah dan membuka ruang diskusi kritis demi penyusunan narasi sejarah yang lebih inklusif dan berimbang.

