Menata Masa Depan Mangrove: KLHK, ULM, dan Freeport Indonesia Bersinergi untuk Lingkungan
Banjarmasin – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta PT Freeport Indonesia menggelar Seminar Nasional bertema “Menata Masa Depan Mangrove Indonesia: Kolaborasi Ilmu, Aksi, dan Kebijakan untuk Mengakhiri Polusi Plastik”. Seminar dilaksanakan di Auditorium ULM Banjarmasin, Senin (02/06/2025), dilanjutkan dengan penanaman 16.500 bibit mangrove di Desa Sabuhur, Kecamatan Jorong, Kabupaten Tanah Laut, sebagai aksi nyata konservasi pesisir.
Seminar nasional ini menghadirkan berbagai tokoh nasional dari pemerintah, dunia akademik, dan sektor swasta, di antaranya Deputi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr. Rasio Ridho Sani, M.Com., MPM, Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesra Provinsi Kalsel Muhammad Farhani, S.P., M.M. (mewakili Gubernur), serta Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas.
Seminar nasional dipandu oleh Prof. Dr. Ir. Syarifuddin Kadir, M.Si dengan narasumber antara lain:
- Ir. Untung Bijaksana, M.P. (Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan ULM),
- Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc. (Rektor Universitas Hasanuddin),
- Dr. Denny Nugroho, S.T., M.Si. (Guru Besar Universitas Diponegoro).
Ketua pelaksana seminar, Dr. Eng. Maya Amalia, S.T., M.Eng., menegaskan pentingnya sinergi antara akademisi, industri, dan pemerintah untuk menghadapi ancaman terhadap ekosistem mangrove.
“Forum ini lahir dari kesadaran kolektif akan krisis lingkungan yang kita hadapi, khususnya pencemaran plastik di wilayah pesisir. Kami berharap hasil-hasil dari forum ini bisa menjadi model kolaborasi lintas sektor yang dapat direplikasi di berbagai daerah,” jelas Maya.
Sebagai bentuk konkret dari seminar, dilakukan penanaman 16.500 bibit mangrove di pesisir Desa Sabuhur, Kabupaten Tanah Laut. Kegiatan ini dipimpin oleh Nursalam, S.Kel., M.S., selaku ketua kegiatan penanaman.
“Penanaman ini bukan sekadar simbolis, tapi bentuk kolaborasi antara dunia usaha, dunia kampus, pemerintah, dan masyarakat. Desa Sabuhur dipilih karena merupakan kawasan mangrove yang potensial namun menghadapi tekanan akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia,” ujar Nursalam.
Menurutnya, mangrove tidak hanya penting untuk mencegah abrasi dan menjaga garis pantai, tetapi juga berperan sebagai penyerap karbon, penyaring polusi plastik, serta sumber ekonomi dan ekowisata bagi masyarakat sekitar.
Rektor ULM, Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, S.E., M.Si., menegaskan komitmen kampus dalam menjaga kelestarian lingkungan. Ia mengungkap bahwa ULM memiliki lahan mangrove seluas 614 hektare di Kotabaru, yang telah ditetapkan KLHK sebagai Laboratorium Mangrove Tropis Indonesia untuk Dunia.
“Masalah kerusakan lingkungan adalah isu nasional. ULM siap berperan aktif dalam konservasi melalui pendidikan, penelitian, dan aksi lapangan,” tegas Rektor.
Sementara itu, Deputi KLHK, Dr. Rasio Ridho Sani, yang hadir mewakili Menteri LHK, menyoroti pentingnya perubahan pola konsumsi masyarakat serta tanggung jawab produsen dalam penanganan sampah plastik.
“Kita perlu hentikan penggunaan plastik sekali pakai dan mendorong tanggung jawab produsen dalam menarik kembali kemasan. Penegakan hukum terhadap praktik open dumping juga akan diperkuat,” ujarnya dalam sambutan.
Presiden Direktur PT Freeport Indonesia, Tony Wenas, menekankan bahwa keberhasilan perusahaan harus sejalan dengan keberlanjutan lingkungan dan masyarakat.
“Produksi kami mungkin berhenti tahun 2041, tapi ekosistem tidak boleh berhenti. Penanaman mangrove ini adalah bagian dari tanggung jawab kami untuk produksi yang aman dan berkelanjutan,” jelas Tony.
Kegiatan ini bukan hanya momentum seremonial, tetapi diharapkan menjadi awal dari gerakan berkelanjutan dalam menyelamatkan ekosistem pesisir Indonesia, khususnya dari ancaman polusi plastik dan perubahan iklim.
Seminar dan penanaman ini mencerminkan semangat kolaborasi dalam menjawab tantangan lingkungan hidup secara holistik. ULM, sebagai perguruan tinggi berbasis riset dan aksi, menunjukkan perannya dalam membangun kesadaran dan solusi nyata bagi masa depan lingkungan Indonesia.
“Mari kita rawat dan lestarikan mangrove untuk anak cucu kita,” pungkas Nursalam.












