Pengamat ULM Soroti Pembengkakan Anggaran PSU Banjarbaru: Perlu Evaluasi Serius Penyelenggara Pemilu
Banjarbaru — Pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) pada Pilkada Banjarbaru 2025 memicu perhatian publik karena menyebabkan pembengkakan anggaran yang dinilai bisa dihindari dengan pengelolaan yang lebih baik.
Pengamat politik Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Mahyuni, menyampaikan bahwa meningkatnya biaya penyelenggaraan PSU mencerminkan lemahnya manajemen pemilu.
“Akibatnya, waktu terbuang, masyarakat dirugikan, dan yang pasti anggaran bertambah. Seleksi serta gaji badan adhoc harus dihitung ulang, belum lagi biaya teknis lainnya,” ujar Mahyuni, Minggu (2/3/2025).
Menurutnya, penyelenggara pemilu seharusnya dapat memilih langkah yang lebih efisien sejak awal, seperti mekanisme pemungutan suara lanjutan di TPS yang mengalami kendala, sehingga tidak harus melakukan PSU secara menyeluruh.
“Kalau hanya mencetak ulang surat suara, paling maksimal biayanya Rp30 juta. Tapi karena PSU, biaya yang diperlukan jauh lebih besar,” jelas Mahyuni, yang juga mantan Ketua Bawaslu Kalimantan Selatan.
Kendati demikian, Mahyuni menegaskan bahwa PSU tetap harus dilaksanakan untuk memastikan keabsahan hasil pemilu. Ia pun menyarankan agar anggaran pelaksanaan PSU dapat didukung melalui alokasi dana dari APBN.
“Tidak ada alasan tidak ada biaya. Paling tidak, anggaran ini bisa di-back up dari APBN,” tambahnya.
Lebih lanjut, Mahyuni menyoroti dampak dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang memerintahkan PSU, yang dinilainya turut memengaruhi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pemilu.
“Mayoritas komisioner KPU Banjarbaru memang sudah dipecat, tapi mengembalikan kepercayaan masyarakat itu tidak mudah. Kecurigaan pasti tetap ada,” katanya.
Sebagai upaya memulihkan kepercayaan publik, Mahyuni mendorong KPU Provinsi dan KPU RI untuk terlibat aktif dalam memastikan transparansi dan integritas proses pemilu.
“Semoga ini menjadi pelajaran berharga agar penyelenggara pemilu lebih berhati-hati. Apalagi di bulan Ramadan ini, momentum yang tepat untuk introspeksi. Jika merasa ada kekeliruan, sebaiknya segera bertaubat,” tutup Mahyuni.

