Dosen Kimia ULM Kembangkan Biopestisida Ramah Lingkungan untuk Pertanian Berkelanjutan
Banjarbaru – Tim riset dosen dari Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) berhasil mengembangkan biopestisida berbasis minyak atsiri yang lebih ramah lingkungan dan efektif dalam pengendalian hama. Inovasi ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi sektor pertanian dalam mengurangi dampak negatif dari penggunaan pestisida sintetis yang berpotensi merusak lingkungan dan kesehatan manusia.
Meningkatnya permintaan produk pertanian telah mendorong penggunaan pestisida kimia dalam skala besar. Namun, penggunaan jangka panjang pestisida sintetis dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, seperti resistensi hama, penurunan kesuburan tanah, serta ancaman kesehatan seperti kanker dan gangguan organ tubuh akibat residu karsinogen. Menyadari tantangan ini, tim dosen ULM yang terdiri dari Dyah Ayu Pramoda Wardani, Aulia Rhamdani Arfan, Achmad Ramadhanna’il Rasjava, dan Sunardi mengembangkan biopestisida berbasis minyak atsiri yang lebih aman bagi ekosistem.
“Biopestisida ini mengandung minyak atsiri yang telah diemulsifikasi sehingga lebih mudah digunakan, memiliki daya lekat yang lebih baik, serta tetap stabil dan efektif dalam mengendalikan hama,” jelas tim peneliti ULM.
Berbeda dari pestisida sintetis, biopestisida berbasis minyak atsiri ini memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya:
✅ Tidak meninggalkan residu berbahaya bagi tanaman, tanah, dan air
✅ Lebih aman bagi manusia dan lingkungan
✅ Tidak menyebabkan resistensi hama
✅ Memiliki sifat antibakteri, antijamur, dan insektisida
Minyak atsiri dalam biopestisida ini bekerja dengan menghambat sistem saraf dan metabolisme hama serta merusak struktur sel patogen. Beberapa hama yang dapat dikendalikan di antaranya jamur Fusarium spp., kutu daun, lalat buah, rayap, semut, dan bakteri Escherichia coli yang dapat mencemari tanah.
Karena minyak atsiri bersifat non-polar dan hidrofobik (tidak larut dalam air), tim ULM menerapkan teknologi emulsifikasi untuk mengubah sifatnya menjadi sistem oil-in-water. Teknologi ini memungkinkan minyak atsiri tersuspensi dalam air sehingga lebih stabil, lebih mudah diaplikasikan, dan meningkatkan daya lekatnya pada tanaman.
Cara penggunaannya pun cukup sederhana. Untuk mengobati tanaman yang terserang hama, cukup campurkan 5 mL biopestisida ke dalam 1 liter air, lalu semprotkan ke tanaman. Sedangkan untuk pencegahan hama, cukup gunakan 2 mL biopestisida per 1 liter air dan semprotkan setiap pagi atau sore selama 7-14 hari untuk hasil yang optimal.
Inovasi ini diharapkan dapat mendukung pertanian berkelanjutan dengan meningkatkan hasil pertanian yang lebih sehat dan aman. Selain itu, pengembangan biopestisida ini juga memberikan peluang ekonomi bagi petani dan produsen minyak atsiri lokal, serta berpotensi mengurangi ketergantungan impor pestisida sintetis.
Dengan dukungan pemerintah dan komunitas pertanian, penerapan biopestisida berbasis minyak atsiri ini bisa menjadi langkah besar menuju pertanian yang lebih hijau, sehat, dan berkelanjutan.

