Menteri LH Kukuhkan 275 Mahasiswa ULM Penggerak Pilah Sampah, Canangkan Gerakan “Sampah Kampus, Selesai di Kampus”
Banjarbaru – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menegaskan perannya sebagai kampus berdampak melalui kolaborasi strategis dengan pemerintah dalam bidang lingkungan hidup. Hal ini ditandai dengan kehadiran Menteri Lingkungan Hidup RI, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., pada rangkaian Wisuda ke-129 ULM, sekaligus pencanangan program “Sampah Kampus, Selesai di Kampus” dan pengukuhan 275 Mahasiswa Penggerak Pilah Sampah, Kamis (9/4/2026).
Bersama Rektor dan Ketua Senat, kegiatan pencanangan program ini menjadi momentum penting dalam memperkuat komitmen ULM terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis partisipasi civitas akademika. Rektor Prof. Dr. Ahmad Alim Bachri, S.E., M.Si. menyampaikan bahwa pengukuhan mahasiswa penggerak pilah sampah menjadi langkah awal dalam membangun gerakan kolektif di lingkungan kampus.
“Sebanyak 275 mahasiswa dari seluruh fakultas kami kukuhkan sebagai penggerak pilah sampah. Ini merupakan modal awal untuk membangun budaya pengelolaan sampah yang berkelanjutan, tidak hanya di lingkungan kampus, tetapi juga di masyarakat,” ujarnya.
Beliau menegaskan bahwa ULM akan terus memperluas gerakan ini hingga ke tingkat program studi guna memperkuat sinergi internal dan memastikan dampak yang lebih luas.
“Kami berkomitmen untuk mendorong inovasi dan implementasi pengelolaan sampah berbasis riset agar ULM benar-benar menjadi kampus yang berdampak, khususnya dalam menjawab persoalan lingkungan,” tambahnya.
Usai pencanangan, Menteri Lingkungan Hidup bersama rombongan meninjau reaktor pelelehan sampah plastik residu di Fakultas Teknik ULM, yang merupakan inovasi hasil riset para peneliti ULM dan telah dipatenkan.
Kepala LPPM ULM, Prof. Sunardi, S.Si., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa teknologi ini mampu mengolah sampah plastik residu—yang tidak memiliki nilai ekonomi—menjadi material komposit bernama ecowood.
“Melalui proses pelelehan dengan suhu terkontrol, sampah plastik residu dapat dikonversi menjadi produk komposit berkualitas tinggi yang memiliki nilai ekonomi. Satu ton sampah dapat menghasilkan hingga satu meter kubik ecowood dengan nilai jual yang kompetitif,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa inovasi ini telah dikembangkan selama empat tahun, dipatenkan atas nama ULM, dan kini mulai diproduksi secara massal melalui mitra.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Lingkungan Hidup mengapresiasi langkah ULM dalam menginisiasi gerakan pilah sampah dan pengembangan teknologi pengolahan sampah.
“Gerakan ‘Sampah Kampus, Selesai di Kampus’ merupakan langkah strategis dalam membangun budaya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Kampus memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pengelolaan sampah membutuhkan komitmen jangka panjang serta dukungan kepemimpinan yang kuat.
Melalui kolaborasi ini, Universitas Lambung Mangkurat tidak hanya berperan sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan solusi dalam menghadapi tantangan lingkungan, sekaligus memperkuat posisinya sebagai pelopor green campus di Indonesia.







Next post

