ULM Dorong Transformasi Sosial Perempuan Desa lewat Sekolah GALUH di Kabupaten Banjar
Martapura – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menunjukkan komitmennya dalam mengatasi ketimpangan gender dan mendorong pemberdayaan perempuan desa melalui peluncuran Sekolah Perempuan GALUH. Program yang diinisiasi oleh Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) ULM ini menyasar 20 perempuan produktif di Desa Antasan Senor Ilir, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar.
Berlangsung selama empat bulan sejak April hingga Agustus 2025, program ini menjadi bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat ULM yang menekankan pada edukasi, penguatan kapasitas ekonomi, dan perubahan sosial berbasis budaya lokal.
Sekolah GALUH—singkatan dari Gerakan Literasi, Usaha, dan Hak—dibangun sebagai platform pemberdayaan yang menyentuh berbagai aspek kehidupan perempuan desa. Melalui 16 sesi (8 teori dan 8 praktik), peserta diajak memahami kesetaraan gender, hak-hak perempuan, pengelolaan keuangan keluarga, hingga keterampilan kewirausahaan berbasis pengolahan limbah.
“Sekolah ini kami rancang dengan pendekatan holistik berbasis Betty Neuman System Model, agar perempuan desa mampu bertahan dari tekanan sosial dan budaya patriarki yang masih kuat di Kalimantan Selatan,” jelas Bernadetta Germia Aridamayanti, dosen Keperawatan FKIK ULM sekaligus ketua program.
Program ini turut melibatkan mahasiswa dari Prodi Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat sebagai fasilitator lapangan. Dukungan penuh juga datang dari Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi serta Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM.
Evaluasi program menunjukkan peningkatan pemahaman peserta terhadap isu gender (dari 45% menjadi 85%) dan hak perempuan (dari 40% ke 80%). Keterampilan kewirausahaan pun meningkat tajam dari 35% menjadi 75%, disusul kemampuan mengelola limbah (78%), pemasaran digital (70%), dan manajemen keuangan keluarga (73%).
Salah satu peserta, Ibu Nurdiana, mengaku kini lebih percaya diri setelah mengikuti pelatihan.
“Dulu saya tidak tahu apa itu hak perempuan. Sekarang saya bisa bantu suami mengelola uang dan mulai usaha kecil dari limbah kayu,” tuturnya.
Inovasi khas program ini adalah pemanfaatan Mesin Wood Crusher untuk mengolah limbah kayu menjadi pupuk dan bahan kerajinan. Pendekatan green entrepreneurship ini mengajarkan pentingnya keberlanjutan lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru di desa.
Tak berhenti sampai pelatihan, ULM juga membentuk komunitas alumni GALUH sebagai wadah lanjutan advokasi dan replikasi program ke desa lain. Alumni bahkan mulai berperan sebagai fasilitator mandiri untuk kelompok baru di sekitarnya.
“Kami ingin Sekolah GALUH menjadi gerakan yang terus hidup, tidak sekadar selesai dalam satu angkatan. Perempuan desa harus berani menyuarakan dan memperjuangkan haknya,” tegas Aridamayanti.
Apresiasi tinggi datang dari Kepala Desa Antasan Senor Ilir yang menyebut program ULM telah membawa dampak positif.
“Ibu-ibu kini lebih percaya diri, produktif, dan mampu membangun usaha yang membantu keluarga,” ujarnya saat penutupan program.
Sekolah Perempuan GALUH ULM kini menjadi model pemberdayaan komunitas yang berorientasi pada transformasi sosial akar rumput. Diharapkan, pendekatan ini dapat menjadi praktik terbaik nasional yang bisa direplikasi di wilayah lain dengan tantangan budaya serupa.

