Survei Lahan Mangrove Kotabaru: Kondisi Terawat dengan Beragam Flora dan Fauna
Kotabaru — Dalam rangka mempersiapkan dan merancang skema pengelolaan lahan mangrove di Kotabaru, Unit Penunjang Akademik Lingkungan Lahan Basah (UPA LLB) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) bersama beberapa dosen dan mahasiswa menggelar survei langsung ke beberapa desa di Kotabaru.
Survey dilaksanakan selama 3 (tiga) hari, 12-14 Agustus 2024 dengan cara terjun dan melakukan observasi langsung pada lingkungan mangrove dan di sekitar lahan mangrove. Survey dilaksanakan di 6 (enam) desa, yakni Desa Kemuning, Desa Tanjung Pelayar, Desa Tanjung Sungkai, Desa Tanjung Tengah, Desa Teluk Tamiang, dan Desa Kampung Baru.
Desa-desa tersebut berada di sekitar lahan mangrove yang akan dikelola ULM melalui Koperasi Berkah Wasaka Mandiri berdasarkan Surat Persetujuan Komitmen Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) pada Hutan Produksi. Terdapat ±611 Ha lahan mangrove di Kabupaten Kotabaru tersebut terbagi ke dalam 3 (tiga) blok, di antaranya yaitu Blok I seluas 366 Ha., Blok II seluas 79 Ha., dan Blok III seluas 166 Ha.
Dari survei dan observasi yang dilakukan, tim lapangan UPA LLB mendapatkan bahwa wilayah mangrove Kotabaru cukup terawat. Tanaman mangrove di wilayah tersebut tumbuh dengan rapat dan jarang sakit ataupun rusak. “Jikapun ada, biasanya disebabkan oleh hewan atau karena berada di dekat pemukiman warga sehingga ada kontak langsung dengan aktifitas masyarakat,” ucap Pani Akbar, anggota tim survei.
Selain itu, tim survei mangrove juga mengamati keberadaan flora dan fauna lain di sekitar lahan mangrove. Beberapa fauna yang terlihat di antaranya lutung, burung pemakan ikan, dan burung berbulu kuning yang memiliki tampilan mirip merpati, tetapi lebih besar.
Adapun tanaman mangrove jelas mendominasi flora di daerah ini, dengan spesies utama seperti bakau dan rambai. Meskipun lahan mangrove berada di dekat pemukiman, Masyarakat sekitar masih sedikit yang dapat memanfaatkannya secara langsung. Namun beberapa warga tetap ada yang memanfaatkannya seperti untuk penggunaan tanaman di sekitar area tambak.
“Secara keseluruhan, hasil survei menunjukkan bahwa ekosistem mangrove Kotabaru terjaga dengan baik dan mendukung berbagai spesies flora dan fauna,” ucap Pani.
Hasil survei tersebut nantinya akan dilaporkan dan menjadi catatan oleh UPA LLB untuk digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam merancang program-program pengelolaan lahan mangrove. Upaya pelestarian yang terus berlanjut diharapkan dapat menjaga keberagaman hayati ini dan meningkatkan pemanfaatan masyarakat yang berkelanjutan dari ekosistem mangrove.


Previous post
Sumpah Dokter ke-91, ULM Kukuhkan 14 Dokter Baru dan 12 Dokter Spesialis
Next post

