Jannatul Maiyah, Kembangkan Bisnis Kreatif Sasirangan Berbasis Soft Skill dan Pemberdayaan Lokal
Banjarmasin – Alumni Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Jannatul Maiyah, menunjukkan kiprah inspiratif dengan mengembangkan bisnis kreatif berbasis kain khas Kalimantan Selatan, Sasirangan, sambil terus mengasah soft skill dan jejaring profesional. Aktivitas ini menjadi wujud pemanfaatan minat, bakat, dan keahlian alumni ULM dalam menggabungkan dunia usaha, pengembangan diri, dan pelestarian budaya lokal.
Di tengah kesibukannya bekerja secara profesional, Jannatul tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi. Menurutnya, keterlibatan tersebut penting untuk menjaga relasi, memperluas jaringan, sekaligus melatih kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan manajemen waktu. Penguatan soft skill inilah yang kemudian menjadi modal utama dalam merintis usaha kreatif yang tengah ia jalani.
Alumni yang lulus dengan predikat cumlaude ini tengah mengembangkan bisnis tote bag berbahan kain Sasirangan. Meski masih berada pada tahap awal, ia optimistis produk lokal dapat diterima generasi muda jika dikemas sesuai tren.
“Usaha Sasirangan saya memang belum berkembang pesat karena fokus saya terbagi antara pekerjaan profesional dan pengembangan diri. Namun, saya tetap optimis melihat peluangnya,” ungkapnya.
Keunggulan produk yang dikembangkan terletak pada penggunaan bahan premium dengan harga terjangkau serta desain yang menyesuaikan selera Gen Z. Inovasi tersebut diharapkan mampu mengubah pandangan bahwa Sasirangan bukan sekadar kain tradisional, melainkan dapat menjadi produk fesyen yang relevan dengan gaya hidup masa kini.
Dalam proses produksinya, Jannatul turut memberdayakan masyarakat sekitar. Saat ini, delapan ibu rumah tangga dilibatkan sebagai penjahit, sementara kalangan Gen Z berperan dalam promosi digital. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat nilai ekonomi produk, tetapi juga memberikan dampak sosial melalui pemberdayaan sumber daya lokal.
Meski demikian, ia mengakui masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait pasokan produksi dan edukasi pasar. Keterbatasan kesiapan pengrajin lokal untuk memenuhi pesanan dalam jumlah besar membuat proses produksi belum bisa ditingkatkan secara signifikan. Selain itu, edukasi kepada konsumen mengenai pentingnya melestarikan Sasirangan sebagai warisan budaya juga memerlukan upaya berkelanjutan.
Ke depan, Jannatul menargetkan pengembangan usaha yang lebih luas. Ia bercita-cita menghadirkan produk tote bag berbahan kain khas dari berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya Sasirangan.
“Harapannya, produk ini bisa menjadi ruang kolaborasi budaya sekaligus peluang usaha yang berkelanjutan,” pungkasnya.
Kisah Jannatul Maiyah mencerminkan bagaimana alumni Universitas Lambung Mangkurat mampu mengoptimalkan minat dan keahlian, memadukan kreativitas, soft skill, dan kepedulian sosial untuk menciptakan karya yang bernilai ekonomi sekaligus budaya.

