Psikolog ULM Tekankan Pentingnya Penanganan Psikologis Pascabencana Banjir di Banjarmasin
Banjarmasin – Akademisi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memberi perhatian pada isu kemanusiaan di daerah. Psikolog ULM dari Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK), Rika Vira Zwagery, S.Psi., M.Psi., mengingatkan pentingnya penanganan psikologis bagi korban banjir, khususnya kelompok rentan seperti lansia, perempuan, dan anak-anak, yang kerap luput dari perhatian pascabencana.
Dalam koran Radar Banjarmasin edisi 15 Desember, pandangan tersebut disampaikan Rika menanggapi sejumlah kasus trauma korban banjir rob di Kota Banjarmasin, salah satunya yang dialami seorang lansia bernama Salasiah di kawasan Kelayan Timur. Menurut Rika, bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan fisik dan materi, tetapi juga dapat meninggalkan luka psikologis jangka panjang bagi penyintas di berbagai kelompok usia.
Rika menjelaskan bahwa lansia merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami trauma akibat bencana. Penurunan kemampuan fisik dan kognitif membuat mereka lebih mudah mengalami syok, ketakutan berlebihan, hingga stres berkepanjangan saat menghadapi situasi darurat seperti banjir. Kondisi tersebut, jika tidak ditangani dengan tepat, berpotensi berkembang menjadi trauma psikologis yang terus berulang setiap kali pemicu muncul.
Dalam konteks kasus yang terjadi, ia menilai reaksi panik berlebihan terhadap tanda-tanda banjir, seperti naiknya air sungai atau hujan deras, merupakan indikator kuat adanya trauma. Oleh karena itu, Rika mendorong agar korban dengan gejala serupa mendapatkan pendampingan profesional, termasuk rujukan ke psikolog atau psikiater, guna membantu memulihkan kondisi mental dan mengurangi dampak psikologis jangka panjang.
Lebih lanjut, akademisi ULM ini menekankan bahwa penanganan pascabencana tidak boleh hanya berfokus pada pemulihan fisik dan infrastruktur. Pemerintah daerah, menurutnya, perlu secara serius memasukkan aspek kesehatan mental ke dalam sistem penanggulangan bencana. Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan adalah memberikan pelatihan dukungan psikologis awal kepada relawan dan petugas lapangan, sehingga bantuan emosional dapat diberikan sejak fase awal pascabencana.
Rika juga mendorong adanya kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, tenaga kesehatan, akademisi, dan komunitas, agar penanganan psikologis korban bencana dapat dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai penting untuk memastikan para penyintas, terutama kelompok rentan, dapat kembali menjalani kehidupan dengan rasa aman dan kualitas hidup yang lebih baik.
Melalui kontribusi pemikiran tersebut, Universitas Lambung Mangkurat menegaskan peran akademisinya dalam memberikan landasan keilmuan bagi kebijakan publik dan penanganan kebencanaan. Kepakaran dosen ULM diharapkan dapat menjadi rujukan dalam merumuskan langkah-langkah penanggulangan bencana yang tidak hanya tanggap secara fisik, tetapi juga responsif terhadap kesehatan mental masyarakat.

