Kulit Nanas Jadi Detergen Ramah Lingkungan: Inovasi PKM ULM di Barito Kuala
BANJARMASIN – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) terus menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) 2025. Kali ini, tim dosen FKIP ULM memberikan pelatihan produksi ecoenzim, yakni detergen ramah lingkungan berbahan dasar limbah kulit nanas, kepada warga Desa Tinggiran Darat, Kecamatan Mekarsari, Kabupaten Barito Kuala.
Kegiatan yang bergulir sejak Juli hingga Desember 2025 ini melibatkan tim dosen FKIP ULM, antara lain Drs H. Mahdian, M.Si, Drs Parham Saadi, M.Si, Rizal Iskandar, S.Pd, M.Pd, Husnul Khatimah, dan Alvince Stevani Lase. Melalui pelatihan tersebut, warga tidak hanya diajarkan cara memproduksi ecoenzim, tetapi juga dibekali strategi pemasaran agar produk dapat bersaing di pasar lokal maupun regional.
Plt Camat Mekarsari, Mohtar Aini, menyambut baik inisiatif ini. “Inovasi ini bermanfaat ganda, mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus membantu perekonomian keluarga,” ujarnya.
Hal senada juga dirasakan warga peserta pelatihan. Aniswati (45), anggota PKK Desa Tinggiran Darat, mengaku baru mengetahui bahwa kulit nanas bisa diolah menjadi produk rumah tangga. “Awalnya tidak menyangka, sekarang saya tertarik untuk menjadikannya usaha tambahan keluarga,” tuturnya.
Ketua Tim PKM ULM, Mahdian, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kondisi lokal. “Desa Tinggiran Darat dikenal sebagai sentra perkebunan nanas di Barito Kuala dengan luas ratusan hektare, maka PKM dengan pelatihan produksi ecoenzim dinilai tepat,” jelasnya.
Menurutnya, produksi buah nanas yang melimpah selama ini menyisakan limbah kulit dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan masalah lingkungan. Mahdian menambahkan, inovasi ecoenzim tidak hanya menjadi solusi pengelolaan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru.
“Inovasi sederhana seperti ini bisa menjadi langkah nyata mengurangi sampah organik sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kami ingin Mekarsari menjadi contoh desa yang mandiri dan peduli lingkungan,” katanya.
Melalui dukungan hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, ULM berharap program ini melahirkan produk ramah lingkungan khas Mekarsari yang mampu menjadi sumber pendapatan baru sekaligus model pemberdayaan berbasis potensi lokal di Kalimantan Selatan.

