Saat TikTok Menyalip Sekolah
Bayangkan sebuah kelas di mana guru menjelaskan materi dengan penuh semangat, tetapi sebagian besar siswa diam-diam menunduk, menatap layar ponsel mereka. Dalam 60 detik, sebuah video di TikTok sudah menyampaikan inti pelajaran yang samalengkap dengan musik, efek visual, dan komentar yang memancing diskusi.
Pertanyaannya, siapa yang akan mereka dengarkan guru di depan kelas, atau kreator konten di layar ponsel? Fenomena ini bukan sekadar gangguan belajar, melainkan sinyal bahwa peta pendidikan sedang berubah drastis.
Generasi Z anak-anak yang lahir dan tumbuh di era digital tidak lagi memandang TikTok sekadar sebagai ruang hiburan. Platform video singkat ini telah menjelma menjadi sumber informasi, ruang eksplorasi, bahkan media pembelajaran.
Dalam hitungan detik, informasi mengalir tanpa henti, menyentuh hampir setiap aspek kehidupan mereka. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting di kalangan pendidik masih relevankah sekolah di mata generasi yang tumbuh bersama gawai dan internet?
Kenyataannya, ruang-ruang kelas mulai kehilangan magnetnya. Generasi Z terbiasa hidup dalam arus informasi yang serba cepat, visual, dan terkoneksi. Mereka belajar dari video berdurasi 60 detik, mendengarkan penjelasan dari influencer edukatif, hingga memantik diskusi kritis di kolom komentar.
Dalam satu hari, seorang remaja dapat mempelajari teknik berbicara di depan umum, mengenal istilah gaslighting, atau memahami literasi keuangan dasar semuanya dari gawai di genggaman.
Sementara itu, sekolah masih setia pada metode ceramah satu arah, tugas hafalan, dan penilaian berbasis angka. Kurikulum memang terus direvisi, tetapi implementasinya lambat dan sering kali tidak menyentuh realitas digital yang dihadapi siswa setiap hari. Jika sekolah ingin tetap relevan, ia harus berbicara dalam “bahasa zaman now” yang dimengerti peserta didiknya. Sebab, di era ini, yang bersaing memperebutkan perhatian siswa bukan hanya guru di kelas, melainkan juga algoritma media sosial yang bekerja tanpa henti.
Berbagai penelitian menunjukkan potensi TikTok sebagai media pembelajaran. Studi yang dimuat di Jurnal Sains dan Edukasi (2024) mengungkapkan bahwa penggunaan TikTok secara terarah dapat meningkatkan motivasi belajar siswa, khususnya melalui tugas pembuatan video kreatif. Di DKI Jakarta, penelitian lain menemukan bahwa sekitar 75 persen pengguna Gen Z menunjukkan peningkatan literasi digital terutama dalam kategori critical consuming setelah rutin mengakses konten edukatif di platform ini.
Fakta ini membuktikan bahwa TikTok bukan sekadar hiburan kosong, tetapi juga bisa menjadi sarana pembelajaran yang efektif jika digunakan dengan bijak.
Meski begitu, potensi ini tidak datang tanpa risiko. Beberapa guru sekolah dasar mengeluhkan penurunan fokus belajar karena siswa lebih tergoda membuat konten hiburan ketimbang menyelesaikan tugas sekolah.
Dosen FKIP Bahasa Indonesia, Universitas Lambung Mangkurat
Pembina Lembaga Pers Mahasiswa FKIP (LPM)

