Mapala Graminea ULM Gelar Seminar “Suara Meratus”, Bahas Keadilan Ekologis dan Konservasi Adat Lewat
Banjarbaru – Mapala Graminea Fakultas Pertanian (Faperta) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) menunjukkan kepeduliannya terhadap isu lingkungan dan sosial dengan menggelar Seminar Lingkungan bertajuk “Suara Meratus”, Jumat (11/7/2025) di Lerina Inn, Banjarbaru. Seminar ini mengangkat tema “Dari Hutan ke Hak: Refleksi atas Kepentingan Konservasi dan Masyarakat Adat”.
Acara ini menjadi ruang diskusi terbuka bagi akademisi, pemerhati lingkungan, dan perwakilan masyarakat adat untuk membahas konflik antara konservasi hutan dan hak masyarakat adat, khususnya di kawasan Pegunungan Meratus. Seminar ini menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, di antaranya Prof. Dr. Ir. Hesty Heryani, M.Si., IPU., ASEAN Eng., Guru Besar Faperta ULM, Oktarina Sarare mewakili komunitas adat, serta Raden Rafiq Sepdian Fadel Wibisono dari kalangan pemerhati lingkungan.
Dalam paparannya, Prof. Hesty menekankan pentingnya edukasi dan transfer teknologi untuk menjaga kawasan Geopark Meratus. Menurutnya, pendekatan penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) terutama dari kelompok pecinta alam seperti KOMPAS “BORNEO” ULM, harus sejalan dengan semangat pembangunan berkelanjutan dalam kerangka Asta Cita, khususnya Asta Cita ke-4.
“Program-program peningkatan kemampuan teknologi berbasis eco-innovation dapat mendorong Kalsel naik dalam indeks Green Economy, sekaligus mendukung ekonomi masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyampaikan perlunya pengembangan kompetensi sebagai Pelatih Pemandu Geowisata, yang melibatkan pemahaman terhadap situs geologi dan arkeologi etnik khas Meratus. Kemampuan membaca peta interaktif, GIS, pengoperasian drone, serta penggunaan teknologi digital seperti aplikasi mobile geopark, virtual tour, dan augmented reality menjadi bagian dari strategi ULM dalam mendukung konservasi berbasis teknologi.
Ketua panitia pelaksana, Irza Maulana, menyebutkan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mahasiswa dan masyarakat mengenai pendekatan keadilan ekologis dalam konservasi lingkungan.
“Kami ingin membangun kesadaran kritis terhadap persoalan lingkungan dan sosial yang terjadi di Pegunungan Meratus,” ujarnya.
Dengan kegiatan ini, Universitas Lambung Mangkurat tidak hanya menjalankan peran akademis, tetapi juga mendorong partisipasi aktif dalam menjaga kelestarian hutan dan menghormati hak masyarakat adat melalui pendekatan yang inklusif dan berkeadilan.

