ULM Gandeng Masyarakat Lokal, Perkuat Konservasi Mangrove Kotabaru
Banjarbaru, 24 April 2025 – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) terus memperkuat perannya dalam pelestarian lingkungan dengan melibatkan masyarakat lokal dalam program konservasi mangrove berkelanjutan di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Upaya ini merupakan bagian dari program kemitraan ULM bersama masyarakat di enam desa, yakni Desa Kemuning, Desa Tanjung Pelayar, Desa Tanjung Sungkai, Desa Tanjung Tengah, Desa Teluk Tamiang, dan Desa Kampung Baru. Program ini bertujuan mengoptimalkan pelestarian ekosistem mangrove melalui pendekatan berbasis komunitas.
Dekan Fakultas Kehutanan ULM, Prof. Kissinger, menjelaskan bahwa keterlibatan masyarakat menjadi kunci efektivitas konservasi mangrove.
“Dengan partisipasi aktif warga, konservasi mangrove bisa berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” ungkapnya di Banjarbaru, Kamis (24/4).
Menurut Kissinger, masyarakat dapat berkontribusi dalam berbagai kegiatan, seperti penanaman bibit mangrove, pengawasan terhadap aktivitas ilegal, serta edukasi tentang pentingnya mangrove bagi ekosistem pesisir. Selain itu, mereka juga dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan melalui musyawarah bersama pemerintah dan pihak perusahaan terkait.
Sebagai bagian dari strategi konservasi jangka panjang, Kissinger menekankan pentingnya kebijakan pendukung, termasuk moratorium konversi mangrove untuk peruntukan lain seperti tambak atau perkebunan. Ia juga menegaskan perlunya rehabilitasi lahan mangrove yang telah rusak secara berkelanjutan.
“Konservasi tidak cukup hanya dengan menanam, tetapi harus disertai dengan komitmen perlindungan jangka panjang dan dukungan kebijakan yang kuat,” tambahnya.
Sejak 2024, ULM telah resmi mengelola lahan mangrove seluas sekitar 611 hektare di kawasan hutan produksi Kotabaru, setelah memperoleh Surat Persetujuan Komitmen Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Dengan pengelolaan ini, ULM mencatatkan prestasi sebagai satu-satunya universitas di dunia yang memiliki dan mengelola kawasan mangrove. Hal ini sejalan dengan visi ULM untuk menjadi Pusat Unggulan Lahan Basah di kawasan Asia Pasifik pada akhir 2027.
Melalui pendekatan kolaboratif ini, ULM tidak hanya memperkuat kontribusinya dalam konservasi lingkungan, tetapi juga memberdayakan masyarakat pesisir untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove.
Â

