IHSG Terpuruk, Pengamat ULM Tekankan Dominasi Faktor Domestik dan Pentingnya Stabilitas Fiskal
Banjarmasin – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam hingga 6,12 persen atau setara 395,86 poin pada Selasa, 18 Maret 2025. Akibat penurunan signifikan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) terpaksa menghentikan sementara aktivitas perdagangan atau melakukan trading halt.
Menurut Pengamat Ekonomi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Dr. Hidayatullah Muttaqin, M.E., pelemahan IHSG disebabkan oleh kombinasi tekanan global dan domestik, dengan dominasi faktor internal yang memperburuk sentimen pasar. “Saat IHSG mengalami penurunan tajam, mayoritas indeks bursa Asia justru bergerak positif. Ini mengindikasikan bahwa faktor domestik memegang peranan utama dalam anjloknya IHSG,” jelas Dr. Hidayatullah.
Salah satu penyebab utama dari sisi eksternal adalah kekhawatiran terhadap kebijakan proteksionis Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang meningkatkan ketidakpastian global. Namun, Dr. Hidayatullah menilai faktor internal jauh lebih berpengaruh, terutama kebijakan fiskal pemerintah Indonesia yang kontroversial.
“Pemangkasan belanja APBN oleh pemerintahan Presiden Prabowo, meski diklaim sebagai langkah efisiensi, justru melemahkan sektor-sektor strategis seperti infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan. Hal ini berdampak pada menurunnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi nasional,” terangnya.
Ia juga menyoroti alokasi anggaran hasil pemangkasan tersebut yang diarahkan ke program MBG dan Danantara. Menurutnya, kedua program tersebut disusun tanpa perencanaan yang matang dan justru membebani fiskal negara.
“Dengan rekam jejak panjang kasus korupsi di Indonesia, serta munculnya skandal besar belakangan ini, kredibilitas tata kelola program Danantara patut dipertanyakan,” tambahnya.
Dr. Hidayatullah menjelaskan bahwa keterlibatan bank-bank BUMN dalam program Danantara juga meningkatkan risiko sistemik di sektor keuangan. “Kondisi ini memicu aksi jual besar-besaran di pasar modal karena investor memandangnya sebagai langkah berisiko tinggi,” ujarnya.
Selain itu, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan melemahnya daya beli masyarakat turut memperburuk kondisi pasar. Penurunan konsumsi rumah tangga sebagai pilar utama pertumbuhan ekonomi serta ketidakpastian sosial akibat gelombang PHK memberikan tekanan tambahan bagi pasar.
“Sayangnya, lambatnya respons pemerintah dalam merespons kondisi ini semakin memperburuk persepsi risiko di mata investor,” tegasnya.
Sebagai penutup, Dr. Hidayatullah merekomendasikan agar pemerintah menunda implementasi program-program besar yang belum matang, memperkuat tata kelola fiskal, dan memprioritaskan stabilitas ekonomi domestik guna memulihkan kepercayaan investor serta mendongkrak daya beli masyarakat.

