Psikolog ULM Soroti Kasus Bunuh Diri Remaja di Banjarbaru, Tekankan Pentingnya Dukungan Sosial
Banjarbaru – Dua kasus bunuh diri yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari seminggu di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, telah mengundang perhatian luas. Kedua korban, yang masih berstatus pelajar di salah satu SMA negeri di Banjarbaru, ditemukan tewas dengan cara gantung diri.
Kasus pertama menimpa seorang remaja laki-laki berinisial MN (16) yang ditemukan pada Sabtu (1/2/2025) pukul 09.15 WITA di Embung Lukodat, Landasan Ulin. Hanya berselang tiga hari, seorang remaja perempuan berinisial IQ (16) juga mengakhiri hidupnya dengan cara serupa di dapur rumahnya pada Selasa (4/2/2025) pukul 17.53 WITA.
Dosen sekaligus psikolog dari Program Studi Psikologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Rika Vira Zwagery, menanggapi fenomena ini dengan menyoroti kondisi psikologis remaja yang masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sosial.
“Remaja berada dalam fase perkembangan emosional yang belum stabil, sehingga saat menghadapi tekanan atau masalah, mereka sering kali kesulitan dalam mengendalikan emosi dan mencari solusi yang tepat,” ujar Rika.
Ia menegaskan bahwa peran lingkungan sosial, terutama teman sebaya, sangat besar dalam membentuk kondisi psikologis remaja.
“Hampir sebagian besar waktu remaja dihabiskan bersama teman sebaya. Jika mereka mengalami penolakan atau konflik dalam hubungan sosialnya, hal ini bisa berdampak besar terhadap kondisi emosional mereka,” jelasnya.
Menurutnya, remaja yang gagal dalam membangun hubungan sosial yang sehat cenderung mengalami perasaan kecewa, sedih, atau bahkan depresi.
Selain faktor lingkungan, Rika juga menyoroti pentingnya keterampilan dalam mengatasi masalah.
“Setiap orang memiliki masalah dan tekanan hidup, tetapi respons terhadap masalah itu berbeda. Ada yang mampu mengatasinya dengan baik, sementara yang lain mungkin tidak memiliki keterampilan menyelesaikan masalah secara efektif, sehingga memilih cara yang keliru,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa kekerasan, perundungan (bullying), dan perilaku menyakiti lainnya dapat memberikan dampak psikologis yang serius bagi korban. Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk menangani kasus bullying dengan pendekatan multisistem yang melibatkan sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial.
Terkait dua kasus bunuh diri yang terjadi di Banjarbaru, Rika menegaskan bahwa perlu dilakukan asesmen lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan tragis tersebut. Namun, yang lebih penting adalah upaya pencegahan agar kasus serupa tidak terulang.
“Kita perlu fokus pada langkah-langkah pencegahan, seperti memberikan edukasi kepada remaja tentang dampak buruk dari perilaku negatif, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain,” ujarnya.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa remaja yang mengalami tekanan sebaiknya tidak ragu untuk mencari bantuan dari profesional.
“Ketika menghadapi masalah yang dirasa sulit, jangan ragu untuk meminta bantuan, baik kepada orang yang dipercaya maupun psikolog, agar bisa mendapatkan solusi yang lebih sehat,” pungkasnya.

