[OPINI] Jangan hanya Karena Nila Setitik, Lalu….
Mutasi Genetik
Rasa bahagia penuh syukur sempat melintas di hati ini, lantaran nilai akreditasi bisa dipulihkan kembali menjadi unggul dan berhasil – katanya — menempati peringkat ke-15 secara nasional, seolah-olah lenyap seketika saat ada berita gelar guru besar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) “akan” dibatalkan. Sebagai dosen senior, kami sangat terganggu mendengar berita ini dan berdoa semoga jangan hanya karena nila setitik, lalu rusak susu sebelanga. Tetapi kami tidak cukup kalau hanya merasa terganggu; ada refleksi serius yang coba kami sampaikan.
Ada persoalan besar lain mendasar yang membingkai kuat masalah tersebut, yakni mutasi genetik – perubahan jenis kelamin — perguruan tinggi (PT), tidak hanya di ULM, tetapi di perguruan-perguruan tinggi lain secara umum. Pendapat Prof. Dr Winarno Surachmad, MSc. Ed. (2009) – seorang pakar pendidikan — beberapa tahun yang silam sangat tepat menggambarkan perubahan jenis kelamin ini. Dia mengatakan, “Diteliti dari misinya, pendidikan nasional semakin mengemuka sebagai nama tanpa makna. Sejak dari awal kemerdekaan, bidang pendidikan yang diberikan kehormatan sebagai tulang punggung pembangunan dan kunci kemajuan, terbukti hanya menjadi tulang yang keropos, dan kunci yang tidak mampu membuka pintu kemajuan, karena kepedulian para pengelola pendidikan terbatas pada formalitas dan tradisi yang dangkal.” Pendapat ini dia tulis dalam bukunya Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi.
Judul buku ini menyiratkan bahwa pendidikan nasional sudah berubah jenis kelamin dari strategi memuliakan bangsa menjadi tragedi bangsa dan negara. Dampak paling serius dari perubahan jenis kelamin ini adalah perubahan orientasinya: ketika dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi, mulai tak mampu menghindari tawaran atau jebakan permintaan pasar lantaran telah menjadi pusat penyedia industri jasa, maka bukan mustahil ia terjebak dalam logika korporat dan akan mengalami McDonaldization – siap saji dan cepat saji demi keuntungan finansial — yang bisa kehilangan kontrol untuk mempertahankan peran hakiki dan mulia pendidikan sebagai proses emansipasi, liberasi, humanisasi, dan transendensi manusia. Dengan kata lain, kuatnya logika korporat ini, lambat atau cepat, akan menggiring perguruan tinggi ke proses McDonaldization.
Universities Die
Ini adalah karya Peter Fleming (2021). Judul lengkapnya Dark Academia: How Universities Die. Kasus yang diangkat memang berlatarbelakang pengalaman di USA. Tetapi bagian-bagian tertentu dari gagasannya juga bisa diterapkan untuk melensa kasus perubahan jenis kelamin PT di negeri ini. Dia mengatakan, universitas-universitas modern saat ini “… are in state of death,” tengah digerogoti meruahnya oleh neoliberalisme yang visinya adalah untuk komersialisasi atau marketization jasa pendidikan tinggi berdasarkan logika korporat atau pasar.
Menurut dia, sejak 1980-an, universitas berubah jenis kelaminnya menjadi business enterprises yang terobsesi oleh pendapan finansial yang lebih melimpah, jumlah wisuwan-wisudawati yang terus meningkat, dan nilai akreditasi tertinggi walau kadang-kadang dilakukan dengan cara yang tidak jujur (Survey Penilaian Integritas Pendidikan Nasional, 2004). Science for Sale, School for Sale, atau Academic Title for Sale – karya beberapa pakar lainnya – amat sangat tepat untuk menggambarkan kecenderungan ini. Semakin banyak peminat sebuah program studi, semakin banyak pula merima mahasiswa, walau program studi tersebut tidak berkontribusi signifikan terhadap pengembangan ilmu. Skripsi, tesis, dan disertasi yang dihasilkan akhirnya hanya menjadi tumpukan arsip yang menjadi saksi bisu korban neoliberalisme. Lembaga PT, lanjut dia, berubah dari Center of Education (baca: pengawal vitalitas keluhuran moralitas) menjadi Edu-Factory yang digerakkan oleh kepentingan korporat – sebagai penyedia lapangan kerja – dan bahkan oleh kapitalisme global sebagai bagundal-bagundalnya di negara berkembang (Peter Phillips, 2018 dan 2024). Praktis PT tak ubahnya seperti tempat kursus atau BLK yang tugas utamanya hanya menyediakan tenaga kerja siap pakai.
The Toxic University
Modern universities in the state of death dan perubahan jenis kelamin universitas (PT) menjadi edu-factory merupakan dua sisi dari mata uang logam yang sama. Keterpautan di antara keduanya diperkaya lagi oleh karya John Smyth (2017): The Toxic University: Zombie Leadership, Academic Rock Stars and Neoliberal Ideology. Menifestasi dampak negatif dari neoliberalism juga tampak pada atau berpengaruh terhadap sisi yang lain, yakni kepemimpinan PT, kegemaran dan kegirangan berselebrasi secara berlebihan terhadap capaian-capaian kuantitatif misalnya dalam publikasi ilmiah, seminar dan konferensi, jumlah doktor yang note bene kerap miskin teori dan guru besar yang nota bene juga tak jelas kepakarannya, jumlah lulusan, IP, dan akreditasi, walaupun secara ilmiah kerap semua itu tak merceminkan quality education. Ia tak lebih dan tak kurang sekadar simbol prestise (baca: bukan prestasi) dan pemenuhan nilai pasar.
Faktor kepemiminan PT disorot oleh Smyth dalam karyanya itu: Zombie Leadership. Yang dimaksud dengan Zombie Leadership di sini adalah kepemimpinan yang keropos atau miskin visi pendidikan yang tulen (genuine educational vision). Justru mereka menjadi patriot pembela nilai-nilai kapitalisme atau neoliberalisme seperti efisiensi, efektivitas, dan inovasi walau mengorbankan keluhuran nilai-nilai moralitas dan etik, serta mengorbankan jati diri PT sebagai pengawal nilai-nilai luhur. Uraian lengkap kegemaran dan kegirangan universitas terhadap kinerja-kinerja kuantitatif dengan sangat indah dikemukakan oleh Jerry Z. Muller dalam karyanya The Tyranny of Metrics (2019).
The Academic Barbarism
Karya Michael O’Sullivan (2016) Academic Barbarism, Universities and Inequality segaris pemikiran dengan Surachmad, Fleming, dan Smyth tentang dampak detrimental neoliberalisme atau kapitalisme terhadap universitas atau PT. Menyertai perubahan besar dari teaching university ke reaseach university ke vocational university, PT mengalami disorientasi nilai; bergerak dari pendulum the toxic university ke the academic barbarism yang ditenagai oleh nilai pasar, economic profit, girang dengan kinerja-kinerja kuantitatif yang kerap tidak sesuai dengan kaidah-kaidah bagaimana seharusnya universitas dikelola sesuai dengan visi mulianya seperti yang dikemukakan oleh Surachmad di atas.
O’Sullivan menambahkan, beroperasinya academic barbarism di PT, secara langsung atau tidak langsung, mengekalkan ketimpangan sosial (universities contribute to and sustain inequality). Alih-alih membantu keluarga menengah ke bawah melakukan mobilitas horizontal, justru dengan sistematik ia memperlebar kesenjangan itu. Cukup banyak anak-anak dari keluarga kelas menengah ke bawah tidak mampu memenuhi ongkos kuliah yang semakin tak terjangkau oleh mereka, terutama untuk program studi “mata-air” di universitas. Angka Partisipasi Murni Pendidikan untuk jenjang perguruan tinggi selalu tidak sebagus jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya.
Masihkah Ada Harapan?
Tentu! Masih cukup banyak orang di ULM yang bernurani. Tak boleh putus asa!. ULM adalah modal bangsa dan aset kultural orang banua. Mari rawat, jaga, dan kawal aset ini dari kecurangan-kecurangan segelintir orang, mahasiswakah, dosenkah, megisterkah, doktorkah, atau guru besarkah, yang menjadi antek-antek kapitalisme atau neoliberalisme yang hanya mencari hidup di ULM, tetapi tak bisa memberi hidup kepadanya, walau dengan secuil kontribusi. Semoga bermanfaat?
Oleh: Syakrani dan Sandra Bhakti Mafriana
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin
Diterbitkan di Radar Banjarmasin, 6 Oktober 2025

