KKN Berdampak: Mahasiswa ULM Olah Limbah Cangkang Rajungan Jadi Tepung Bernilai Ekonomi di Desa Sungai Lembu
- Posted by Humas ULM
- Categories Berita Lainnya
- Date 3 August 2025
Tanah Bumbu – Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kembali menunjukkan kontribusinya dalam mengembangkan potensi lokal dan mengatasi permasalahan lingkungan melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik. Kelompok 13 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) ULM yang bertugas di Desa Sungai Lembu, Kecamatan Kusan Hilir, menginisiasi inovasi pengolahan limbah cangkang kepiting rajungan menjadi tepung kalsium bernilai gizi dan ekonomi.
Kegiatan yang berlangsung sejak awal Agustus 2025 ini berawal dari observasi potensi desa oleh mahasiswa.
“Kami menemukan bahwa Desa Sungai Lembu merupakan penghasil rajungan, tetapi limbah cangkangnya selama ini dibuang dan menimbulkan pencemaran. Dari situ, kami terinspirasi untuk memanfaatkannya dengan prinsip zero waste,” ujar Aditya, perwakilan mahasiswa KKN.
Proses pembuatan tepung cangkang rajungan dilakukan secara bertahap, mulai dari pengumpulan cangkang dari pengepul, pembersihan sisa daging, perebusan dengan suhu terkontrol, penjemuran selama 2–3 hari, pengecilan ukuran, penggilingan dengan dry mill, hingga pengemasan. Tepung ini kemudian diuji coba sebagai campuran pembuatan nugget ikan kembung bersama tepung terigu, telur, dan bumbu halus.
Kepala Desa Sungai Lembu, Rusniansyah, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa ULM.
“Selama ini cangkang rajungan hanya jadi limbah. Sekarang, selain menghasilkan daging, kami punya potensi baru dari cangkangnya. Ini bisa menambah penghasilan dan membuka peluang kerja bagi warga,” ujarnya.
Dinas Perikanan Tanah Bumbu juga menilai program ini sejalan dengan upaya pengelolaan sumber daya perikanan secara berkelanjutan. Tepung kalsium dari cangkang rajungan memiliki manfaat kesehatan, antara lain mencegah osteoporosis dan memperbaiki asupan mineral. Saat ini, produk tersebut masih dalam tahap uji laboratorium untuk mengetahui kandungan kalsium secara pasti.
Menurut Aditya, pengolahan ini tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang inovasi produk pangan.
“Tepung ini bisa digunakan untuk fortifikasi berbagai olahan seperti bakso, biskuit, atau makanan ringan, sekaligus menambah nilai gizi,” katanya.
Melalui program ini, ULM tidak hanya mengajarkan teknologi tepat guna, tetapi juga menanamkan semangat wirausaha dan kepedulian lingkungan kepada masyarakat. Kegiatan ini menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dalam melaksanakan Tri Dharma, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan hasil yang dapat dirasakan langsung oleh warga.

Previous post
KKN Berdampak: Mahasiswa FPIK ULM Kenalkan Olahan Kaki Naga Bandeng Lewat GEMARIKAN di Desa Muara Pagatan
Next post

