ULM MILIKI 50 GURU BESAR
Kualitas sumber daya manusia di Universitas Lambung Mangkurat terus meningkat. Hal ini dibuktikan dengan dikukuhkannya dua Guru Besar yakni, Prof. Dr. H. Muhammad Zaini, M.Pd., dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) dan Prof. Dr. H. Budi Suryadi, S.Sos, MSi., dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) ULM. Pengukuhan ini diselenggarakan di Aula Rektorat ULM Banjarmasin Lt. 1, Kamis (12/03/2020) yang disaksikan oleh Rektor ULM Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si, M.Sc., Guru Besar dari Universitas Airlangga Prof. Dr. Ida Bagus Wirawan, MS., Ketua Senat ULM Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta, MS., Sekretaris senat, para anggota senat, Prof. H. Kustan Basri, Prof. Ir. H. Muhammad Rasmadi, MS., para wakil Rektor, Direktur Pascasarjana, Pimpinan Fakultas, Kepala Program Studi, dan sivitas akademika di lingkungan ULM.
“Dengan tambahan dua Guru Besar ini, ULM memiliki total 50 orang Guru Besar yang aktif saat ini” ujar Rektor ULM dalam sambutannya. ULM terus mendorong para dosen, terutama yang sudah doktor untuk menjadi Guru Besar demi memperkuat sumber daya manusia yang ada di ULM. Rektor lebih lanjut mengatakan bahwa ULM sudah mengusulkan 14 orang doktor yang saat ini sudah diproses di Jakarta untuk segera menjadi Guru Besar. Target ULM saat ini adalah untuk memiliki minimal satu Guru Besar di setiap Program Studi.
Dalam orasi ilmiah yang berjudul ‘Pembelajaran Biologi Berbasis Penelitian (Sebuah Inovasi dalam Mengisi Pembelajaran Biologi Abad ke-21)’ yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Muhammad Zaini, M.Pd., dijelaskan bahwa pembelajaran biologi seyogyanya diupayakan agar ada keseimbangan/keharmonisan antara pengetahuan biologi dengan penanaman sikap-sikap ilmiah, serta nilai-nilai kearifan yang ada dalam biologi itu sendiri. Pembelajaran biologi pada abad ke-21 memberi keleluasaan kepada peserta didik mengembangkan literasi sains, dimana ini sejalan dengan integrasi pengetahuan berbagai disiplin ilmu untuk memahami secara mendalam sistem biologi. Penelitian ebotani menjadi fokus utama untuk menghasilkan ‘bahan ajar’ bagi masyarakat dan bahan ajar bagi peserta didik. Sebuah produk penelitian yang dapat digunakan kedua subjek adalah Buku Ilmiah Populer (BIP). Peran perguruan tinggi sangat menentukan adanya BIP, Karena melekat pada tri dharma perguruan tinggi. Penelitian pengembangan berpeluang menghasilkan karya besar untuk menyediakan BIP yang berkualitas.
Prof. Dr. H. Budi Suryadi, S.Sos, MSi., mengangkat judul ‘Mitos Politik Si Palui dalam Pilkada Kalsel’ dalam orasi ilmiahnya. Beliau memaparkan mitos Si Palui memiliki struktur unik dalam kehidupan masyarakat Banjar, dimana itu dirangkai dan disusun dalam model matematis dari deretan angka-angka secara singkronis dan diakronis yang menunjukkan sebuah struktur politik masyarakat Banjar. Struktur politik ini yang menjadi representasi tindakan politik secara individu maupun berkelompok dalam politik kekinian. Terdapat beberapa konteks mitos politik Si Palui dalam fenomena politik dan tindakan politik yang dilakukan oleh aktor politik pada pemilihan Kepala Daerah langsung di KalSel, yaitu; politik membanjur yang artinya mengumumkan diri sebagai bakal calon, politik bubuhan yang terbentuk melalui jaringan keluarga inti atau dinasti, politik bekupiah yang menarik simpatik pemilih melalui nilai religiusitas, politik mengarung yang menggunakan uang dalam jumlah yang sangat banyak sebagai modal menambah dukungan pemilihnya, dan politik tampulu dimana sosok politik yang melihat kesempatan atau peluang mujur dihadapannya. Fenomena-fenomena politik ini tidak begitu saja terrepresentasi tetapi memiliki struktur yang mendukung di baliknya. Beliau berharap, ada kelanjutan yang konstruktif untuk menemukan geneologis baru struktur politik yang lebih berorientasi kebaikan bersama sehinga fenomena politik tersebut bermanfaat bagi kebaikan bersama urang Banjar dan Indonesia.

