PENGANUGERAHAN GELAR DOKTOR KEHORMATAN PERTAMA ULM
Banjarmasin, Senat Universitas Lambung Mangkurat (ULM) mengadakan Sidang Terbuka dalam rangka penyerahan Gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) kepada Nicolaas Josephus Maria“Nico” Roozen di Lecture Center General Building ULM, Selasa (18-06-2019). Penyerahan Gelar Doktor Kehormatan diberikan kepada orang yang dianggap memiliki jasa-jasa yang luar biasa dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan/atau berjasa dalam bidang kemanusiaan. Hadir dalam acara ini Ketua Senat Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta, MS., Rektor Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., Nicolaas Josephus Maria “Nico” Roozen, sivitas akademika serta mitra dan tamu undangan.
Pemberian Gelar Doktor Kehormatan Kepada Nico Roozen karena jasanya dalam pengembangan di bidang ekonomi berkelanjutan yang inklusif melalui organisasi Solidaridad. Selama 30 tahun menjadi Direktur Eksekutif Solidaridad, Nico Roozen telah banyak memfasilitasi pembangunan yang bertanggung jawab secara sosial, ramah secara ekologi dan menguntukan secara rantai pasokan. Atas pemikiran dan kiprahnya, pada tahun 2007 Nico Roozen memperoleh gelar penghargaan dari Kerajaan Belanda yaitu sebagai anggota dari Order of Orange-Nassau. Selain itu dia juga membawa Solidaridad mendapat berbagai macam penghargaan dari berbagai pihak.
Dalam sambutannya Nico Roozen merasa sangat terhormat atas anugerah Doctor Honoris Causa dari ULM. juga merasa sangat senang begitu mengetahui bahwa ini kali pertama ULM memberikan gelar ini. Pengakuan ini dia harap menjadi pembuka jalan untuk bisa berinteraksi dan berbagi pengalaman selama setengah abad yang dimiliki Solidadirad dengan mahasiswa ULM. “ Sebagai bagian dari keterlibatan saya dengan ULM di tahun-tahun mendatang, saya dan tim Solidaridad Asia telah bergerak cepat agar Mahasiswa ULM berkesempatan untuk melihat program kami di Indonesia dan di negara Asia lainnya”, tutup Nico.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding) antara ULM dengan Solidaridad berkaitan dengan pengembangan ekonomi berkelanjutan. Nota Kesepahaman tersebut ditandatangani langsung oleh Rektor Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., dan Direktur Pengelola Regional Solidaridad Asia Shatadru Chattopadhayay. Menurut Rektor kerja sama ini akan sangat bermanfaat untuk membuka wawasan dan pengalaman mahasiswa ULM dalam melihat permasalahan secara nyata dibidang pemberdayaan masyarakat, sesuai dengan yang sudah dilakukan oleh Solidaridad selama ini. “Dengan ilmu dan pengalaman yang didapat nantinya, kita harapkan muncul generasi-generasi baru mahasiswa dan alumni ULM yang visioner memiliki jiwa sosial tinggi serta berwawasan global” ucap Rektor.
Pada kesempatan yang sama, Nico Roozen memberikan kuliah umum dihadapan sivitas akademika ULM dengan tema “ Bisakah Organisasi Masyarakat Sipil Mengklaim Kesuksesan Sementara Dunia Dilanda Kemalangan?”. Nico memulai kuliah umum dengan menjelasan bahwa saat ini kita sedang dalam era Antroposen (kepunahan), hal ini dapat kita lihat dari laporan terkini berbasis data dari Panel-Panel PBB. Melihat data-data tersebut, dia menyimpulkan bahwa kita telah mengorbankan planet kita dan masa depan manusia demi segelitir kaum elit.
Kerusakan yang terjadi tentu erat kaitannya dengan proses perdagangan dan ekpolitasi sumber daya yang ada selama ini. Untuk mengurangi dampak yang ada, strategi utama Solidaridad adalah transformasi pasar dengan cara memberikan hasil yang secara sosial dan ekologis lebih diinginkan. Sebuah interaksi antara pemerintah yang baik, tanggung jawab sosial korporasi dan organisasi masyrakat sipil yang berorientasi solusi dapat menelurkan hasil yang positif. Meskipun demikian, dampak dan efek desktrutif yang kita lihat masih ada karena adanya ketidaksempurnaan pasar. Tantangan utama yang berkaitan dengan keberlanjutan dan pembangunan inklusif, terkoneksi erat dengan tiga ketidaksempurnaan pasar yaitu penyebaran kemiskinan, bencana ekologis serta pasar dan rantai pasok cendurung tidak seimbang
Dikarenakan berbagai tantangan besar yang ada, kita tidak lagi hanya berpikir untuk melakukan hal yang benar, tapi miliki skala yang terbatas. Kita harus memikirkan proses untuk perubahan fundamental. Kebutuhan transformasi untuk mengubah permainan yang ada menjadi ekonomi melingkar atau bahkan regeneratif. Kita harus mengembalikan apa yang hilang. Percepatan dan skala akan menjadi penentu kita akan bisa membuat perubahan dengan waktu yang terbatas.
Organisasi masyarakat sipil sangat cerdas dalam mengklaim kesuksesan program-program mereka dan mempresentasikannya sebagai dampak positif. Evaluasi cenderung terfokus pada pembuktian ketimbang perbaikan. Namum, hasil abadi akan terhubung dengan dengan transformasi pasar yang difasilitasi oleh pemerintah yang baik dan perubahan arah modal menuju pembangunan berkelanjutan. Proses perubahan fundamental ini lebih mendesak, namum dinamika ini masih juga belum terjangkau. Kita tidak bisa mengklaim kesuksesan sementara dunia masih berkutat dengan kemalangan dan ketidakadilan yang terus bertambah. “Berdasarkan alasan tersebut, akselerasi solusi adalah tema utama untuk diskusi ambisi 2025 kami dan membawanya menuju percepatan dan skala” tutupnya.

