Kuliah Umum Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA
Prof. Dr. Muhammad Nuh, DEA, Guru Besar Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) yang juga mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan masa bhakti 2010 – 2014 berkenan memberikan Kuliah Umum di Unlam pada hari Kamis, 4 Juni 2015 mulai pukul 10.00 sampai 12.15 di Aula Rektorat. Beliau menyampaikan kuliah umum dengan judul “Membangun Daya Saing SDM Memasuki Intergrasi Ekonomi ASEAN melalui Pendidikan Berkarakter” Acara ini dihadiri oleh rektor, mantan rektor Prof H Kustan Basri dan Prof. H. Muhammad Ruslan, anggota senat universitas, diantaranya Prof. Gusti Muhammad Hatta yang juga mantan Menteristek, serta wakil rektor, dekan, dosen, rektor UNISKA, rektor IAIN Antasari, rektor Universitas Panca Bakti, Universitas Balikpapan, dan Direktur Politeknik Hasnur serta mahasiswa.
Kuliah Umum dengan durasi lebih dari 120 menit ini mendapat perhatian dan antusiasme hadirin, karena topik yang disampaikan sangat relevan dengan kondisi kekinian bangsa serta memberi inspirasi bagi mahasiswa sebagai generasi emas menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang menyongsong dimulainya era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tanggal 31 Desember 2015.
Mengawali kuliahnya, Prof Muhammad Nuh memaparkan bukti-bukti sejarah keunggulan peradaban nusantara yang sudah terbukti keberadaannya pada waktu yang hampir bersamaan dengan era Nabi Ibrahim, sekitar 3.500 tahun Sebelum Masehi. Salah satu bukti peradaban yang terakhir ditemukan adalah situs Gunung Padang. Nusantara pada jaman Sriwijaya dan Majapahit telah berjaya dengan cakupan wilayah meliputi ASEAN sekarang. Sriwijaya terbukti mampu menguasai lautan dengan membuat kapal ukuran panjang 20 meter, lebar 4,5 meter, tinggi 2 meter pada sekitar tahun 1350-1389 M, Colombus baru mampu membuat kapal dengan ukuran panjang 18 m, lebar 6 m, tinggi 2 m pada tahun 1492 M. 400 tahun kemudia, Marcopolo membuat kapal dengan ukuran panjang 56 m, lebar 11, tinggi 8,8 m pada tahun 1852 M dalam ekspedisinya yang berhasil menemukan benua Amerika.
Nusantara terus berkembang positif hingga abad ke 14, kemudian menunjukkan tren negatif sejak era kolonialisme. Setelah tren negatif selama 7 abad, mulai abad ke 21 menunjukkan tren positif. Pada bulan Maret tahun 2007 sebuah prediksi menarik dipaparkan oleh Yayasan Indonesia Forum yang dipimpin oleh Chaerul Tanjung dihadapan Presiden dan anggota kabinet bahwa Indonesia berpeluang besar menjadi negara maju pada tahun 2030. Prediksi ini ternyata tidak jauh berbeda dengan yang dibuat oleh McKenzie Institute yang dipublikasikan pada tahun 2012, bahwa pada tahun 2030 Indonesia optimis berada pada kelompok 7 negara besar dunia. Salah satu bukti kebenaran tersebut adalah diakuinya Indonesia sebagai Anggota G 20 sejak tahun 2010.
Prof. Muhammad Nuh menimpali prediksi ini dengan kondisi Indonesia sekarang dalam perjalanan menuju kesana, bahwa kita punya persoalan, iya, tetapi kita punya peluang besar seiring dengan era kebangkitan Asia, dimana kita ada didalamnya sebagai negara dengan kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, peningkatan GDP yang signifikan, yang berdampak pada kemampuan konsumsi masyarakat dengan jumlah penduduk nomor 4 terbesar di dunia.
Data-data yang dikutip dari sumber-sumber yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, menurut Prof. Muhammad Nuh memberikan harapan yang besar tentang kemungkinan kebenaran prediksi era kebangkitan Indonesia.
Pada penghujung kuliahnya, Prof. Muhammad Nuh meminta akademisi mengajak mahasiswa membuat peta potensi ekonomi bangsa-bangsa di Asean dan peluang Indonesia. Beliau secara khusus menekankan perlunya membina dan mengembangkan nilai kepribadian yang luhur sebagai bangsa yang berperadaban tinggi. Insan yang berkarakter adalah modal utama bangsa ini menuju kejayaannya. Demikian Prof. Muhammad Nuh mengakhiri kuliahnya.


