Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia Raih Penghargaan Kalpataru
Rektor Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Prof. Dr. H. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., memberikan ucapan selamat kepada ketua Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia, Amalia Rizki. Yayasan SBI Tahun 2022 meraih penghargaan Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian RI. Melalui media sosialnya, Rektor memberikan apresiasi kepada Amalia yang juga seorang dosen program studi Pendidikan Biologi FKIP ULM. Upaya yang dilakukan selama 9 tahun tidak hanya berbuah dalam penyelamatan habitat bekantan, namun juga lingkungan di sekitarnya.
“Yayasan SBI juga melakukan konservasi lingkungan lahan basah. Menanam mangrove sekaligus memperbaiki habitat ikan air tawar, populasi bekantan terus bertambah karena sumber pakan cukup dan nelayan senang karena populasi ikan bertambah,” tulis beliau dalam unggahan di akun Instagram pribadinya. Yayasan yang bergerak dalam bidang konservasi tersebut mendapat anugerah Kalpataru kategori Penyelamat Lingkungan. YSBI melakukan konservasi terhadap satwa endemik asal Kalimantan, yakni bekantan (Nasalis larvatus) di Pulau Curiak.
Amalia Rizki, Pendiri Yayasan SBI menyampaikan rasa syukurnya ketika mengetahui bahwa Yayasan SBI masuk sebagai nominasi Kalpataru tahun 2022 pada April lalu. “Semoga upaya kami dalam penyelamatan bekantan menjadi gaung nasional sebagai gambaran kolaborasi antara komunitas masyarakat dan stake holder,” ucap Amalia.
Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia didirikan sejak tahun 2012 dan telah meraih beberapa penghargaan di bidang lingkungan baik di dalam maupun luar negeri. Universitas Lambung Mangkurat secara konsisten juga membantu YSBI dalam upaya konservasi, salah satunya dengan mendirikan Stasiun Riset Bekantan dan Ekosistem Lahan Basah di pulau Curiak, kabupaten Barito Kuala. Stasiun riset tersebut didirikan sejak tahun 2018 dan hingga saat ini telah menghasilkan 30 karya ilmiah serta bekerjasama dengan University of New Castle, Australia.

