BEM ULM Gelar Aksi Simbolik dan Ziarah Kenang Tragedi Jumat Kelabu Banjarmasin
BANJARMASIN – Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat ( BEM ULM) menggelar aksi simbolik untuk mengenang 26 tahun tragedi Jumat Kelabu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Aksi mereka berlokasi di depan gerbang II ULM, kawasan Kayutangi, Jalan Brigjen H Hasan Basri, Banjarmasin. Dimulai sektair pukul 16.45 Wita, mereka mengenakan pakaian hitam.
Beberapa di antaranya membawa poster yang berisi tuntutan agar ada kejelasan atas kasus kematian yang terjadi pada tragedi Jumat Kelabu. “Ini aksi simbolik,” ujar Ketua BEM ULM, Ahmad Nurhadi, di lokasi aksi, Selasa (23/5/2023). Ada dua poin tuntutan yang mereka sampaikan. Pertama, tentang kondisi makam massal tragedi Jumat Kelabu harus diperhatikan pemerintah. Kedua, meminta pemerintah untuk mengusut tuntas tragedi ini hingga menemukan titik terangnya. Melalui aksi ini, mereka berharap agar tidak terulang kembali dan tragedi berdarah ini bisa diingat sampai kapanpun.
Sementara itu, pada peristiwa Jumat Kelabu, ratusan orang menjadi korban. Beberapa orang dikabarkan menghilang. Pada kejadian 26 tahun lalu tersebut, banyak bangunan dan fasilitas umum yang dirusak dan dibakar.
Sementara itu sembilan mahasiswa berziarah ke Pemakaman Massal Jumat Kelabu di Landasan Ulin, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel). Ziarah mahasiswa yang tergabung dalam BEM ULM ini tepat 25 tahun setelah kerusuhan 23 Mei 1997 di Banjarmasin. Mereka melakukan prosesi tabur bunga sekaligus mendoakan arwah ratusan korban yang tewas pada peristiwa kelam tersebut.
Selain itu, Kepala Departemen Pergerakan BEM ULM, Syamsu Rizal mengatakan kegiatan tersebut bertujuan untuk merawat ingatan. Sebab, dia menilai saat ini sudah banyak mahasiswa yang melupakan peristiwa Jumat Kelabu. “Mungkin ini juga sebagai ajang untuk merawat luka para keluarga korban,” katanya.
Selain ziarah, Syamsu menyebut pihaknya juga menggelar aksi simbolik menyalakan lilin sekaligus mimbar bebas di depan gerbang kampus ULM Banjarmasin, Selasa petang. Syamsu berharap kerusuhan Jumat Kelabu bisa menjadi refleksi bagi semua warga. Dia mengatakan jangan sampai kejadian serupa kembali terulang. “Meski sudah 25 tahun, tapi peristiwa kelam ini tidak boleh luntur dalam ingatan,” ujarnya.

