{"id":39304,"date":"2026-08-08T16:13:41","date_gmt":"2026-08-08T08:13:41","guid":{"rendered":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/?p=39304"},"modified":"2026-08-13T16:22:50","modified_gmt":"2026-08-13T08:22:50","slug":"mahasiswa-kkn-ulm-kenalkan-pemanfaatan-sekam-padi-jadi-bahan-bakar-alternatif","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/2026\/08\/08\/mahasiswa-kkn-ulm-kenalkan-pemanfaatan-sekam-padi-jadi-bahan-bakar-alternatif\/","title":{"rendered":"Mahasiswa KKN ULM Kenalkan Pemanfaatan Sekam Padi Jadi Bahan Bakar Alternatif"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Tanah Bumbu, Sekam padi yang selama ini dianggap sebagai sisa hasil pertanian di Desa Sumber Baru, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, kini diperkenalkan sebagai bahan bakar alternatif. Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 4 mengolah sekam padi menjadi briket dan mengajak perwakilan kelompok tani untuk melihat sekaligus mempraktikkan proses pembuatannya dalam program Eco Bricket, Jumat (7\/8\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agus Pujianto, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Program Studi Akuakultur, menjelaskan bahwa pemilihan sekam padi didasarkan pada kondisi desa yang memiliki aktivitas pertanian cukup kuat. \u201cDi daerah sini banyak lumbung padi. Jadi itu alasan kami membawa Eco Bricket,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahasiswa memperagakan tahapan pengolahan sekam padi menjadi briket. Proses dimulai dengan membakar sekam hingga berwarna hitam, kemudian dihaluskan dan dicampur dengan tepung tapioka yang telah diolah menjadi kanji sebagai perekat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dalam praktik, mahasiswa menggunakan setengah karung sekam padi sebagai bahan contoh. Perbandingan bahan perekat dijelaskan secara rinci: empat sendok tepung tapioka dicampur dengan satu gelas air, lalu digunakan untuk mengikat adonan briket dengan komposisi lima sendok sekam dan satu sendok perekat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Peralatan yang digunakan sederhana, seperti wadah adonan, kaleng pembakar sekam, kompor, sendok, dan jaring kawat. Setelah mahasiswa memberikan contoh, peserta kelompok tani ikut mencoba langsung tahapan pembuatan briket.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sekitar enam warga dari gabungan kelompok tani hadir dalam kegiatan tersebut. Mereka tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga ikut mempraktikkan proses pembuatan briket, mulai dari membakar sekam, mengaduk, hingga membentuk adonan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Agus menilai keterlibatan langsung peserta penting agar masyarakat memahami bahwa pemanfaatan sekam padi dapat dilakukan dengan cara sederhana. \u201cGabungan kelompok taninya langsung ikut praktik sendiri, mulai dari membakar, mengaduk, sampai membuat,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahasiswa juga memperkenalkan perbandingan bahan agar peserta memiliki gambaran ketika ingin mencoba kembali secara mandiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan Eco Bricket diharapkan memberi pengetahuan baru kepada masyarakat mengenai pemanfaatan sisa pertanian. Bagi Desa Sumber Baru yang memiliki aktivitas pertanian, sekam padi tidak lagi hanya dianggap limbah, tetapi dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ketua Kelompok 4, Muhammad Fauzan Ananta, mahasiswa Fakultas Kehutanan Program Studi Kehutanan, menegaskan bahwa inovasi lingkungan tidak selalu harus rumit. \u201cBahan yang berada di sekitar masyarakat pun dapat menjadi awal untuk menemukan pemanfaatan baru,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Program Eco Bricket digerakkan oleh 16 mahasiswa lintas fakultas, yakni Zaidan Failasufa (FPIK, Teknologi Hasil Perikanan), Agus Pujianto (FPIK, Akuakultur), Muhammad Yasser Karima (FPIK, Ilmu Kelautan), Muhammad Khidhir (FPIK, Perikanan Tangkap), Muhammad Fauzan Ananta, Maya Tahera, dan Nurhaliza Kusuma Wardani (Fakultas Kehutanan), Muhammad Naufal (FMIPA, Statistika), Maulida Nur Safitri (Fakultas Teknik, Teknik Lingkungan), Normala, Felicia Fidia, dan Naila Munawarah (FPIK, Manajemen Sumberdaya Perairan), Noer Mayadha (FPIK, Sosial Ekonomi Perikanan), Zahratun Nufus (FPIK, Ilmu Kelautan), Najma Auralia (FMIPA, Farmasi), serta Norliani (FMIPA, Biologi).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi kekuatan utama dalam memperkenalkan pemanfaatan sekam padi sebagai bahan briket, sekaligus mendorong masyarakat Desa Sumber Baru untuk lebih kreatif dalam mengelola sisa hasil pertanian.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif.jpeg\"><img fetchpriority=\"high\" class=\"size-medium wp-image-39307 alignleft\" src=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-300x169.jpeg 300w, https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif.jpeg 700w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a> <a href=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-4.jpeg\"><img class=\"size-medium wp-image-39306 alignleft\" src=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-4-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-4-300x169.jpeg 300w, https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-4.jpeg 700w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a> <a href=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-3.jpeg\"><img class=\"size-medium wp-image-39305 alignleft\" src=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-3-300x169.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"169\" srcset=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-3-300x169.jpeg 300w, https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Mahasiswa-KKN-ULM-Kenalkan-Pemanfaatan-Sekam-Padi-Jadi-Bahan-Bakar-Alternatif-3.jpeg 700w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a> <a href=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Eco-Cycle-2.jpeg\"><img loading=\"lazy\" class=\"size-medium wp-image-39301 alignleft\" src=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Eco-Cycle-2-300x168.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"168\" srcset=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Eco-Cycle-2-300x168.jpeg 300w, https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Eco-Cycle-2.jpeg 700w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanah Bumbu, Sekam padi yang selama ini dianggap sebagai sisa hasil pertanian di Desa Sumber Baru, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, kini diperkenalkan sebagai bahan bakar alternatif. Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 4 mengolah sekam &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":39308,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_total_topic_count_hidden":0,"_bbp_total_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"pmpro_default_level":0},"categories":[23,399],"tags":[401,403],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39304"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39304"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39304\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39309,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39304\/revisions\/39309"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39308"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39304"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39304"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39304"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}