{"id":39259,"date":"2026-08-09T14:52:29","date_gmt":"2026-08-09T06:52:29","guid":{"rendered":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/?p=39259"},"modified":"2026-08-13T15:04:35","modified_gmt":"2026-08-13T07:04:35","slug":"potensi-baru-desa-angsana-kopi-mangrove-hasil-inovasi-mahasiswa-kkn-ulm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/2026\/08\/09\/potensi-baru-desa-angsana-kopi-mangrove-hasil-inovasi-mahasiswa-kkn-ulm\/","title":{"rendered":"Potensi Baru Desa Angsana Kopi Mangrove Hasil Inovasi Mahasiswa KKN ULM"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Tanah Bumbu \u2013 Buah mangrove jenis <em>Rhizophora<\/em> yang tumbuh di pesisir Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, kini diperkenalkan sebagai bahan minuman kopi alternatif oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 2. Inovasi ini disampaikan melalui kegiatan edukasi kepada masyarakat pesisir yang diikuti lebih dari 20 peserta, terdiri dari ibu-ibu PKK dan anggota karang taruna, Sabtu (8\/8\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Koordinator kelompok, Ahmad Ryan Faizal, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Program Studi Ilmu Komputer, menjelaskan bahwa ide kopi mangrove berawal dari keinginan memanfaatkan potensi lokal. \u201cAwalnya kami merencanakan sirup mangrove, tetapi setelah melihat jenis mangrove yang tumbuh di Angsana, kami menemukan buah <em>Rhizophora<\/em> yang ternyata bisa dijadikan kopi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Buah mangrove yang digunakan adalah buah yang sudah jatuh secara alami, karena kandungan getahnya lebih sedikit dan rasanya lebih kuat. Proses pengolahan dimulai dengan membelah buah untuk mengambil bijinya, kemudian dipotong kecil-kecil, direndam selama satu hingga dua minggu untuk mengurangi getah, dikeringkan selama tiga hingga empat hari, lalu disangrai hingga mengeluarkan aroma menyerupai kopi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ryan menegaskan bahwa kopi mangrove yang mereka perkenalkan aman dikonsumsi, meski belum melalui uji resmi pemerintah. \u201cKelompok kami sudah mencoba minum kopi mangrove ini, dan di beberapa tempat produk serupa sudah dipasarkan. Namun untuk tes resmi dari pemerintah memang belum ada,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Meski tidak melakukan praktik langsung bersama warga, mahasiswa menyiapkan video proses pembuatan kopi mangrove yang ditayangkan saat kegiatan. Cara ini tetap memancing antusiasme peserta, bahkan muncul lebih dari 15 pertanyaan seputar rasa, cara pengolahan, keamanan konsumsi, hingga peluang usaha. Ibu-ibu PKK menjadi kelompok yang paling aktif bertanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKarena kopi mangrove ini masih baru, masyarakat pesisir Angsana sangat tertarik. Mereka melihatnya sebagai inovasi yang berbeda dan berpotensi dikembangkan,\u201d kata Ryan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Selain membahas potensi ekonomi, masyarakat juga menanyakan dampak pengambilan buah mangrove terhadap ekosistem. Ryan menekankan pentingnya prinsip keberlanjutan. \u201cPemanfaatan sumber daya alam harus dikontrol. Bukan berarti semua buah harus diambil. Sewajarnya saja dan secukupnya. Kalau sudah habis, jangan dipaksa,\u201d tegasnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahasiswa menekankan bahwa tujuan mereka bukan mendorong eksploitasi berlebihan, melainkan memperkenalkan alternatif pemanfaatan buah mangrove yang selama ini belum dimanfaatkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ryan juga melihat bahwa hutan mangrove Angsana memiliki potensi lebih dari sekadar fungsi ekologis sebagai pelindung pesisir. \u201cSelama ini kita tahu mangrove hanya mencegah abrasi. Padahal buahnya bisa digunakan, bahkan bisa dikembangkan menjadi produk pangan seperti kopi atau sirup,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menambahkan, kawasan hutan mangrove Angsana memiliki daya tarik wisata yang layak dikembangkan. \u201cSaya berharap suatu saat hutan mangrove Angsana bisa menjadi objek wisata. Tempatnya sejuk dan bagus untuk jalan-jalan,\u201d katanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui inovasi kopi mangrove, mahasiswa berharap masyarakat Desa Angsana semakin mengenal potensi lokal sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem. \u201cKami ingin meninggalkan sesuatu yang berbeda selama KKN, yang bisa dijalankan oleh pemerintah desa dan masyarakat,\u201d ujar Ryan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kegiatan ini menjadi bukti bahwa mahasiswa tidak hanya hadir untuk memberikan teori, tetapi juga membawa gagasan praktis yang dapat dikembangkan menjadi peluang usaha sekaligus memperkuat kesadaran lingkungan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kelompok ini terdiri dari 16 mahasiswa lintas fakultas, yakni Ahmad Ryan Faizal (FMIPA, Ilmu Komputer), Andini Prasetya Ningrum (FMIPA, Farmasi), Candra Permana (FMIPA, Ilmu Komputer), Cindy Meiliawan dan Kezia Atalia Samosir (FPIK, Manajemen Sumberdaya Perairan), Dakin Lukas Pangestu Asi Gultom dan Tania Yuanda (Fakultas Kehutanan), Hamdi Fansuri dan Laili Maulida (FPIK, Ilmu Kelautan), Irfi Yusroini Pribadi (FMIPA, Biologi), Meita Amelia Putri (FPIK, Teknologi Hasil Perikanan), Muhammad Syarif (FPIK, Perikanan Tangkap), Nur Zahwa (FPIK, Sosial Ekonomi Perikanan), Prischilia Agnes Patila (Fakultas Teknik, Teknik Lingkungan), serta Rahdatia Silva dan Wahid Nor Raihan (FPIK, Akuakultur).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanah Bumbu \u2013 Buah mangrove jenis Rhizophora yang tumbuh di pesisir Desa Angsana, Kecamatan Angsana, Kabupaten Tanah Bumbu, kini diperkenalkan sebagai bahan minuman kopi alternatif oleh Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 2. &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":39261,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_total_topic_count_hidden":0,"_bbp_total_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"pmpro_default_level":0},"categories":[23,399],"tags":[401,403],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39259"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39259"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39259\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39263,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39259\/revisions\/39263"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39261"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39259"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39259"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39259"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}