{"id":39161,"date":"2026-07-29T11:33:45","date_gmt":"2026-07-29T03:33:45","guid":{"rendered":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/?p=39161"},"modified":"2026-08-12T11:38:47","modified_gmt":"2026-08-12T03:38:47","slug":"serbuk-kayu-dimanfaatkan-mahasiswa-kknt-lh-ulm-menjadi-briket-ramah-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/2026\/07\/29\/serbuk-kayu-dimanfaatkan-mahasiswa-kknt-lh-ulm-menjadi-briket-ramah-lingkungan\/","title":{"rendered":"Serbuk Kayu Dimanfaatkan Mahasiswa KKNT-LH ULM Menjadi Briket Ramah Lingkungan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Tanah Bumbu, Serbuk kayu yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif berupa briket. Inovasi tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 7 kepada masyarakat Desa Batulicin Irigasi melalui sosialisasi dan demonstrasi pembuatan briket, Selasa (28\/7\/2026).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><a href=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan.jpeg\"><img fetchpriority=\"high\" class=\"size-medium wp-image-39164 alignright\" src=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan-300x200.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" srcset=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan-300x200.jpeg 300w, https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan.jpeg 700w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/a>Kegiatan yang berlangsung di pendopo desa diikuti sekitar 20 warga, mayoritas ibu rumah tangga. Mahasiswa tidak hanya memberikan penjelasan, tetapi juga memperagakan langsung proses pembuatan briket dengan bahan dan peralatan sederhana. Abdi Cahaya Girsang, Nabella Melani, Nathania Adzra\u2019 Rusnita, dan Muhammad Fahrizal Hasbi terlibat aktif dalam penyampaian materi dan praktik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Proses pembuatan dimulai dari pembakaran serbuk kayu secara perlahan hingga menjadi arang, kemudian diayak menggunakan saringan berukuran 40\u201360 mesh agar lebih halus. Arang halus dicampur dengan perekat dari tepung tapioka yang telah dimasak hingga mengental. Adonan kemudian dicetak menggunakan pipa sederhana hingga menghasilkan briket. Meski bentuknya belum seragam, mahasiswa menekankan bahwa cetakan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk produksi skala besar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahasiswa juga menyoroti potensi pemanfaatan briket di Pasar Jadul, yang masih menggunakan arang dalam aktivitas memasak. Briket dinilai mampu menjadi alternatif bahan bakar karena menghasilkan panas tahan lama dan bara lebih banyak. Respons warga cukup positif; mereka tidak hanya menyaksikan demonstrasi, tetapi juga ikut mencoba serta membawa sampel briket ke rumah. Beberapa warga bahkan menanyakan peluang pengembangan briket sebagai produk bernilai jual.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKNT-LH Kelompok 7 berharap masyarakat dapat melihat bahwa bahan sisa seperti serbuk kayu masih memiliki manfaat ekonomi dan lingkungan apabila diolah dengan cara sederhana.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Anggota KKNT-LH Kelompok 7 Desa Batulicin Irigasi terdiri atas Muhammad Ramadhani, Atania Nikita Tarigan, dan Rizka Amalia (Manajemen Sumberdaya Perairan); Nabella Melani dan Nathania Adzra\u2019 Rusnita (Akuakultur); Muhammad Arjun Wirawan dan Aisya Salsabella (Ilmu Kelautan); Reza Anindya Arifin (Teknologi Hasil Perikanan); Herny Noor Aziziah dan Muhammad Fahrizal Hasbi (Sosial Ekonomi Perikanan); Abdi Cahaya Girsang, Nika Maria Dani, dan Firmando Tinambunan (Kehutanan); Muhammad Fakhriza Hakim (Statistik); serta Fitria (Biologi).<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan-3.jpeg\"><img class=\"aligncenter size-full wp-image-39162\" src=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan-3.jpeg\" alt=\"\" width=\"700\" height=\"466\" srcset=\"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan-3.jpeg 700w, https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-content\/uploads\/2026\/08\/Serbuk-Kayu-Dimanfaatkan-Mahasiswa-KKNT-LH-ULM-Menjadi-Briket-Ramah-Lingkungan-3-300x200.jpeg 300w\" sizes=\"(max-width: 700px) 100vw, 700px\" \/><\/a><\/p>\n<div style=\"text-align: justify;\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanah Bumbu, Serbuk kayu yang selama ini dianggap sebagai limbah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi bahan bakar alternatif berupa briket. Inovasi tersebut diperkenalkan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup (KKNT-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 7 kepada masyarakat Desa &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":39163,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_total_topic_count_hidden":0,"_bbp_total_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"pmpro_default_level":0},"categories":[23,399],"tags":[401,403],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39161"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=39161"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39161\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":39165,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/39161\/revisions\/39165"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/39163"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=39161"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=39161"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=39161"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}