{"id":31386,"date":"2025-05-07T13:45:52","date_gmt":"2025-05-07T05:45:52","guid":{"rendered":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/?p=31386"},"modified":"2025-05-28T13:48:39","modified_gmt":"2025-05-28T05:48:39","slug":"konservasi-udang-galah-dan-bekantan-sinergi-ekologi-dan-ekonomi-untuk-kalimantan-selatan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/2025\/05\/07\/konservasi-udang-galah-dan-bekantan-sinergi-ekologi-dan-ekonomi-untuk-kalimantan-selatan\/","title":{"rendered":"Konservasi Udang Galah dan Bekantan: Sinergi Ekologi dan Ekonomi untuk Kalimantan Selatan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\">Banjarmasin \u2013 Ahli Konservasi yang juga dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Amalia Rezeki terus berupaya meningkatkan populasi udang galah di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Program ini menjadi bagian dari inisiatif konservasi yang menggabungkan aspek ekologi dan kesejahteraan masyarakat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Ia menyampaikan bahwa selama lima tahun terakhir, populasi udang galah di wilayah Sungai Barito mengalami penurunan drastis. Hal ini disebabkan oleh praktik penangkapan yang merusak lingkungan, seperti penggunaan racun dan setrum oleh nelayan dari luar desa. Selain itu, kerusakan ekosistem mangrove, terutama jenis rambai, turut memperburuk kondisi habitat udang galah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPopulasi udang galah yang besar dan bernilai ekonomi tinggi kini makin sulit ditemukan. Ini akibat kerusakan hutan mangrove dan metode penangkapan yang tidak ramah lingkungan,\u201d ujar Dr. Amalia di Banjarmasin, Selasa (6\/5\/2025).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Sebagai bentuk konservasi aktif, Dr. Amalia bersama timnya dari SBI Foundation secara rutin melakukan restorasi mangrove rambai\u2014habitat penting bagi udang galah dan bekantan. Hingga saat ini, lebih dari 25.000 bibit rambai telah ditanam di Pulau Curiak, dan beberapa di antaranya telah membentuk pulau-pulau kecil baru.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Dr. Amalia bersama timnya juga menjalankan pendekatan edukatif dan ekonomis dengan membeli udang galah betina yang sedang bertelur dari nelayan untuk kemudian dilepaskan kembali ke habitat alami. Langkah ini diharapkan dapat mendorong kesadaran masyarakat pesisir untuk tidak menangkap induk udang yang sedang berkembang biak.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami berharap ke depan ada kesadaran bersama dari para nelayan untuk melindungi udang yang sedang bertelur. Jika dibiarkan berkembang biak, hasilnya justru akan lebih menguntungkan dalam jangka panjang,\u201d jelas Amalia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Konservasi udang galah ini juga sejalan dengan pelestarian bekantan, satwa endemik Kalimantan yang menjadi ikon Provinsi Kalimantan Selatan. Pohon rambai, selain menjadi tempat berpijah udang galah, juga merupakan sumber makanan dan tegakan penting bagi bekantan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">Kini, kawasan Pulau Curiak tidak hanya menjadi lokasi konservasi dan edukasi, tetapi juga meningkatkan produktivitas nelayan lokal. Setiap hari, nelayan kembali aktif mencari ikan dan udang di wilayah ini yang mulai pulih secara ekologis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKami bersyukur, kolaborasi antara ULM, SBI Foundation, dan masyarakat nelayan mulai membuahkan hasil. Ekosistem mulai pulih dan nelayan bisa kembali merasakan manfaatnya,\u201d tutup Amalia.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banjarmasin \u2013 Ahli Konservasi yang juga dosen Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Dr. Amalia Rezeki terus berupaya meningkatkan populasi udang galah di Pulau Curiak, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Program ini menjadi bagian dari inisiatif konservasi yang &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":31389,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"pmpro_default_level":0},"categories":[23],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31386"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=31386"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31386\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":31390,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/31386\/revisions\/31390"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/31389"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=31386"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=31386"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=31386"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}