{"id":30981,"date":"2025-04-08T14:23:15","date_gmt":"2025-04-08T06:23:15","guid":{"rendered":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/?p=30981"},"modified":"2025-04-28T14:30:10","modified_gmt":"2025-04-28T06:30:10","slug":"30981","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/2025\/04\/08\/30981\/","title":{"rendered":"Penutupan TPAS Basirih Picu Krisis Sampah di Banjarmasin, Akademisi ULM Soroti Kurangnya Solusi Nyata"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih Banjarmasin oleh Kementerian LHK pada 1 Februari 2025 lalu memicu kontroversi di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh dampak langsung dari penutupan tersebut yang menyebabkan kekhawatiran akan penumpukan sampah yang menumpuk dan meluber ke seluruh TPS serta jalan-jalan di berbagai sudut kota dalam beberapa hari terakhir.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Hal ini menjadi perhatian oleh akademisi ULM sekaligus pengamat tata kota Dr. Eng. Akbar Rahman yang mengkritik situasi darurat sampah yang melanda Kota Banjarmasin pasca penutupan TPAS Basirih oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Akbar mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi jalanan kota yang tertutup sampah, menyebabkan bau tak sedap, dan menciptakan pemandangan yang tidak menyenangkan. Ia pun mempertanyakan sampai kapan situasi ini akan terus berlanjut.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">\u201cMasalah sampah bukan hal baru, tetapi penanganannya hingga kini masih belum efektif. Meskipun surat edaran wali kota sudah diterbitkan, jika tidak ada langkah konkret di lapangan, kebijakan tersebut hanya akan menjadi wacana belaka,\u201d ujarnya <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Akbar, yang juga merupakan warga Banjarmasin, mengkritisi siklus masalah sampah yang terus berulang. Mulai dari perilaku masyarakat yang membuang sampah sembarangan, TPS yang kewalahan menampung sampah, hingga petugas yang kesulitan mengelola sampah yang akhirnya menumpuk.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Sebagai Ketua Program Studi Arsitektur ULM, Akbar mengingatkan bahwa jika kondisi ini dibiarkan, Banjarmasin tidak hanya akan dikenal sebagai kota seribu sungai, tetapi juga kota seribu gunungan sampah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Akbar menyarankan, salah satu langkah yang efektif adalah dengan mewajibkan masyarakat untuk memilah sampah sejak dari rumah, bukan hanya sekadar imbauan. Hanya sampah residu yang boleh dibawa ke TPS, sementara sampah organik harus dikelola secara mandiri melalui komposting.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">\u201cAktifkan TPS3R dan pengelolaan sampah komunal di tingkat RT. Sampah anorganik yang masih bernilai ekonomi harus dikumpulkan untuk didaur ulang dan disalurkan ke bank sampah. Semua aktivitas bank sampah di Banjarmasin harus diberdayakan,\u201d jelasnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify;\"><span lang=\"EN-US\">Akbar juga menyarankan agar TPS melakukan pembenahan dengan menyediakan fasilitas untuk pemilahan dan pengelompokan sampah, agar sampah yang sudah dipisahkan oleh warga di rumah tidak kembali tercampur.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Basirih Banjarmasin oleh Kementerian LHK pada 1 Februari 2025 lalu memicu kontroversi di kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh dampak langsung dari penutupan tersebut yang menyebabkan kekhawatiran akan penumpukan sampah yang menumpuk dan meluber &hellip; <\/p>\n","protected":false},"author":6,"featured_media":30984,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_bbp_topic_count":0,"_bbp_reply_count":0,"_bbp_total_topic_count":0,"_bbp_total_reply_count":0,"_bbp_voice_count":0,"_bbp_anonymous_reply_count":0,"_bbp_topic_count_hidden":0,"_bbp_reply_count_hidden":0,"_bbp_total_topic_count_hidden":0,"_bbp_total_reply_count_hidden":0,"_bbp_forum_subforum_count":0,"pmpro_default_level":0},"categories":[66],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30981"}],"collection":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/6"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30981"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30981\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30986,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30981\/revisions\/30986"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30984"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30981"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30981"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ulm.ac.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30981"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}