FILOSOFI BURUNG ENGGANG Oleh: Dr. Budi Suryadi, M.Si

Foto Budi suryadiBurung Enggang merupakan burung endemik di wilayah Kalimantan, yang tidak ada di wilayah lainnya. Sebagai burung endemik wajar saja akhirnya burung ini banyak disimbolisasikan oleh masyarakat yang ada di wilayah Kalimantan, seperti masyarakat Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur. Simbolisasi burung enggang ini diwujudkan kedalam bentuk-bentuk simbol pemerintahan daerah, tarian sampai simbol universitas.

Universitas Lambung Mangkurat merupakan salah satu universitas yang menjadikan burung enggang sebagai simbol universitas. Para pendiri Universitas Lambung Mangkurat memiliki gagasan yang tepat dan sangat brilian dengan memilih burung enggang sebagai lambang universitas. Pemilihan ini bernuansa jangka panjang masa depan Kalimantan Selatan dan bernuansa kepentingan lokal serta nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan kepercayaan orang-orang lama, simbolisasi burung enggang ini setara dengan simbolisasi naga, yang dianggap bahwa burung enggang sebagai simbolisasi alam atas (langit) dan naga sebagai simbolisasi alam bawah (darat).Di sini burung enggang sebagai penjaga alam atas, yang sekaligus sebagai wujud keseimbangan dengan alam bawah.

Pemikiran pendiri Universitas Lambung Mangkurat dengan simbolisasi alam atas ini dapat dibayangkan sebagai wujud alam pikiran atau gagasan atau ide yang sangat cocok dengan kehidupan masyarakat kampus yang hari-harinya belajar sekaligus merajut gagasan-gagasan kemanusiaan.

Genealogis universitas sebagai pengayom kehidupan alam bawah (darat) yang diwujudkan melalui gagasan-gagasan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat ini sangat relevan dengan fungsi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang fokus pada bidang penelitian, pembelajaran dan pengabdian masyarakat. Alhasilnya melalui Tri Dharma Perguruan Tinggi ini para sivitas akademikanya (dosen + mahasiswa) menerapkan gagasan-gagasannya untuk membangun dan mensejahterakan masyarakat Kalimantan Selatan.

Simbol ini menjadi spirit bagi sivitas akademikanya dalam melakukan kegiatan Tri Dharma perguruan tinggi. Para mahasiswanya semangat untuk menimba ilmu pengetahuan di universitasnya sedangkan para dosennya semangat untuk memberikan dan mengembangkan ilmu pengetahuan di universitasnya.

Kemudian simbolisasi burung enggang sebagai perwujudan kasih sayang, kebahagiaan dan prinsip. Hal ini terlihat dari kebiasaan burung enggang yang selalu berpasangan dan hidup damai dengan pasangannya. Ini juga bermakna bahwa antara dosen dan mahasiswa itu ibarat pasangan mitra dalam mempelajari ilmu pengetahuan, yang berkasih sayang sebagai orang tua dan anak didik. Di dalam hubungan dosen-mahasiswa ini juga terletak prinsip bahwa hanya sebatas hubungan kolega dalam ilmu pengetahuan, dan tidak ada hubungan lainnya.

Istimewanya dari burung enggang yaitu pada saat burung betina mengerami telurnya sampai menetas tidak pernah meninggalkan sarangnya, kemudian kebutuhan makannya selama disarang disediakan oleh burung enggang yang laki. Dalam hal makanan si burung enggang tidak lah terlalu pilih-pilih yang penting asal buah-buahan itu sudah masak maka akan dimakannya, seperti pisang, kestela, mangga kemudian kadang-kadang juga memakan binatang yang kecil-kecil untuk pencernaan.

Burung enggang betina akan lama berada disarangnya sehingga selama disarangnya burung betina membentuk sarang yang tertutup dengan satu lubang yang tidak terlalu besar, kemudian sarang itu terus dirangkai menjadi sarang besar jika anak-anaknya sudah menetas, serta anak-anak yang sudah mulai besar bisa ikut merevarasi sarang ini menjadi besar untuk tempat tinggalnya sendiri dengan menyambung dari sarang yang induknya.

Kepandaian burung enggang dalam merangkai sarang inilah yang menjadi sebab urang Kotabaru menyebut burung ini dengan sebutan lain, yaitu burung rangkai. Arti burung rangkai ini adalah burung yang pandai membuat sarang dari awalnya berbentuk kecil sampai menjadi berbentuk besar dan panjang.

Simbolisasi burung enggang ini sangat tepat untuk sebuah universitas, dimana dapat bermakna bahwa para dosen di universitas ibarat para orang tua dan mahasiswa ibarat anak-anaknya. Para dosen mengayomi, mendidik dan membina mahasiswanya dari sejak kuliah sampai selesai dengan hasil prestasi yang baik.

Para mahasiswa yang menempuh pendidikan di universitas lambung mangkurat ibarat anak-anak yang haus akan ilmu pengetahuan sehingga perlu mendapatkan makanan ilmu pengetahuan sedangkan para dosennya ibarat orang tua (bapak/ibu) yang memberikan asupan makanan ilmu pengetahuan agar para mahasiswanya tercukupi kebutuhan makanan ilmu pengetahuannya.

Kemudian para dosennya memberi ruang terbuka dan memfasilitasi bagi anak-anaknya (mahasiswa) untuk melakukan inisiatif inovasi-inovasi sendiri dalam ilmu pengetahuan dengan melalui cara mengembangkan konsep-konsep ilmu pengetahuan maupun teori-teori ilmu pengetahuan baru sesuai dengan tradisi keilmiahan yang berlaku saat itu.

Burung enggang memiliki kebiasaan selalu bertengger di dahan batang pohon yang besar dan yang paling tinggi. Kebiasaan bertengger di pohon yang tinggi ini untuk memudahkan burung tersebut memandang dan memperhatikan gerak-gerik binatang kecil yang ada di tanah maupun melihat dikejauhan buah-buahan di pohon yang sudah masak.

Simbolisasi ini tentunya bermakna bahwa para sivitas akademika universitas memiliki cita-cita setinggi-tingginya dan berpandangan luas ke depan. Para mahasiswa yang sedang studi di Universitas Lambung Mangkurat memiliki cita-cita atas ilmu pengetahuan yang ditekuninya dan berpandangan luas ke depan dengan menjadikan bakat keilmuannya untuk kemajuan daerahnya.

Sementara itu para dosen yang ada di Universitas Lambung Mangkurat memiliki cita-cita setinggi-tingginya menempuh pendidikan sampai strata doktor dan sampai derajat profesor. Selain itu berpandanan luas ke depan untuk kemajuan Universitas Lambung Mangkurat dan kemajuan pembangunan daerah Kalimantan Selatan.

Warna hitam yang melekat di burung enggang itu melambangkan keteguhan jiwa dan kesetiaan. Ini terkait dengan kebiasaan burung enggang dalam memilih pasangan hidupnya yang selalu dikasihi dan setia sampai akhir hayat. Burung enggang selalu melindungi betinanya dan anak-anaknya dari bahaya luar dengan membangun sarang yang tertutup dan tinggi.

Para mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat dalam menempuh pendidikan memiliki keteguhan jiwa dalam menyelesaikan pendidikannya dan memiliki prinsip dan konsisten dalam hidup sehingga tidak terombang-ambing dalam pengaruh kehidupan global yang penuh dengan godaan-godaan kehidupan duniawi.

Penulis: Dr. Budi Suryadi, M.Si (Dosen FISIP Unlam)

Blog Attachment